Kemendag Dukung Implementasi SGR di Malang

38

MALANG-Pemerintah Pusat berkomitmen membantu meningkatkan perekonomian daerah. Salah satu langkahnya adalah melalui pembangunan Sistem Resi Gudang (SRG) di Kabupaten Malang, Jawa Timur. “Dengan persemian gudang SRG ini diharapkan Kab. Malang dapat segera menerapkan skema SRG dan mendapatkan manfaatnya, terutama manfaat ekonimnya yang sangat besar, seperti yang telah dirasakan oleh daerah lain di Jawa Timur,” kata Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan Sutriono Edi  di Malang, Jawa Timur, Kamis (19/10).

Khusus di wilayah Kabupaten. Malang, saat ini pelaksanaan SRG tengah dalam persiapan pengimplementasian, diawali kerjasama dengan PT Pertani (Persero) yang direncanakan menjadi Pengelola Gudang SRG di Kab. Malang. Sedangkan lembaga pembiayaan yang telah siap adalah Bank Jatim dan Bank BRI. Pembiayaan terhadap resi gudang yang nantinya diterbitkan dapat dibiayai oleh kedua bank tersebut.

Dia mengatakan SRG merupakan salah satu instrumen penting dan efektif dalam sistem pembiayaan perdagangan. SRG dapat memfasilitasi pemberian pembiayaan kepada pelaku usaha dengan agunan inventori (komoditas yang disimpan di gudang) yang dimiliki pelaku usaha, terutama kolompok tani dan UKM. Resi gudang diterbitkan oleh Pengelola Gudang dan dapat dijadikan agunan sepenuhnya tanpa dipersyaratkan adanya agunan lainnya. “Pelaku usaha dapat menjaminkan resi gudang untuk memperoleh modal kerja dan kebutuhan pembiayaan,” jelasnya.

Gudang tersebut telah selesai pembangunannya pada akhir tahun 2012 dan dibangun dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2012.

Program DAK merupakan upaya pemerintah dalam mendorong percepatan pembangunan di daerah. Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah di sektor perdagangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah adalah melalui penguatan subsektor perdagangan dalam negeri yang efisien guna menunjang daya saing pasar di dalam dan luar negeri. Hal ini sangat penting dalam menghadapi tantangan dan kompetisi global yang semakin ketat. “Efisiensi perdagangan dapat tercapai apabila didukung oleh iklim usaha yang kondusif dengan tersedianya dan tertatanya sistem pembiayaan perdagangan yang dapat diakses oleh setiap pelaku usaha terutama petani dan UKM,” imbuhnya.

Dia mengatakan secara akumulatif hingga 17 Desember 2013, jumlah resi gudang yang telah diterbitkan mencapai 1.261 resi dengan total volume komoditas sebanyak 50.400,66 ton (43.221,38 ton gabah; 4.619,97 ton beras; 2.118,92 ton jagung; 20,39 ton kopi; dan 420 ton rumput laut), atau total senilai Rp 250,91 miliar.

Dengan semakin berkembangnya implementasi SRG, transaksi Resi Gudang menunjukkan tren positif. Pada tahun 2012 jumlah resi yang diterbitkan mencapai 379 resi dengan nilai mencapai Rp 93,18 miliar. Jumlah ini meningkat sebesar 40% dibandingkan tahun 2011 sebanyak 271 resi dengan nilai mencapai Rp 40,06 miliar. Sedangkan sampai pertengahan Desember 2013, jumlah resi yang diterbitkan mencapai 524 resi dengan nilai mencapai Rp. 106,76 miliar. Jumlah ini meningkat sebesar 15% dibandingkan total penerbitan resi sepanjang tahun 2012 sebanyak 379 resi dengan nilai mencapai Rp 93,18 miliar.

“Walaupun mengalami peningkatan, potensi volume hasil panen petani secara nasional masih cukup besar, sehingga volume komoditas yang disimpan dalam gudang SRG masih perlu ditingkatkan agar dapat menjadi salah satu tolak ukur pemerintah dalam memperhitungkan stok pangan nasional,” jelasnya.