Kemendag Rebranding Lebih Dari 300 Produk Potensi Ekspor

32
Direktur Jenderal PEN Arlinda

JAKARTA-Kementerian Perdagangan (Kemendag) secara konsisten memfasilitasi pelaku usaha untuk meningkatkan ekspor dengan fokus pada pengembangan brand identity. Berkaitan dengan itu, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) kembali merealisasikan program rebranding  lebih dari 300 brand identity di beberapa provinsi di Indonesia.  “Kemendag memfasilitasi para pelaku usaha berorientasi ekspor agar mereka mampu menciptakan brand identity yang kuat di tengah gempuran produk-produk negara lain di kancah perdagangan internasional,” papar Direktur Jenderal PEN Arlinda di Jakarta, Rabu (7/9).

Menurutnya, merek merupakan identitas suatu produk. Tidak hanya mengandalkan kualitas dan desain yang bagus, merek yang kreatif dan inovatif akan memperoleh positioning yang bagus dan memperkuat product awareness di benak konsumen.

Pada 2016, kegiatan rebranding dilaksanakan di Sumatera Utara, Kepulauan Riau (Batam), Banten, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Selanjutnya, akan diseleksi 50 pelaku usaha kategori International Corporate and Small Business (ICSB), berdasarkan kriteria innovation and creativity; customer discovery; funding; utilizing information technology; dan business model innovation.

Sejak 2011 jelasnya lebih dari 300 pelaku usaha dari berbagai daerah berpartisipasi dalam program rebranding. Melalui program tersebut, pelaku usaha mengembangkan merek-merek baru. Merek-merek tersebut  antara lain Lomart Gallery (Lombok), Blivahom (Sukoharjo), Pradipta (Bandung), Bodesari Rattan (Cirebon), Wiracana Handfan (Denpasar), Bali Alus (Denpasar), Kupu-Kupu Bola Dunia (Denpasar), Bali Tangi (Denpasar), Komar Batik (Bandung), Restu Mande (Bandung), Tama Chocolate Indonesia (Bandung), Rendang Uda Gembul (Bandung), dan Kopi Nusantara (Bandung).

Dalam penerapannya, Kemendag bekerja sama dengan pakar rebranding. Para pelaku usaha diundang pada seminar mengenai pentingnya rebranding. Para pelaku usaha juga belajar mendalami brand positioning dan brand personality masing-masing. Keduanya merupakan faktor penting dalam membangun brand identity. Brand identity diwujudkan melalui nama merek, logo, dan warna kemasan yang eye-catching untuk membedakannya dengan produk lain yang serupa agar mudah dikenali dan diingat konsumen.

Kemendag juga akan membantu pelaku usaha mengkomunikasikan mereknya melalui berbagai media, seperti kartu nama, brosur, x-banner, kemasan, tas belanja dan label harga. Semuanya merupakan elemen pendukung untuk memperkokoh positioning produk sekaligus perusahaan tersebut.
“Keluaran program rebranding adalah buku rekomendasi rebranding untuk setiap pelaku usaha yang difasilitasi. Pelaku usaha diharapkan dapat memahami brand positioning produknya di pasaran, menciptakan merek baru yang mendukung usaha peningkatan daya saing produk, serta mampu mengkomunikasikan merek tersebut secara konsisten kepada konsumen potensial,” jelas Arlinda.