Kemendes Dorong UMKM Jadi Lifestyle

14

YOGYAKARTA-Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menegaskan ada dua hal yang bisa mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yaitu mengaitkan UMKM menjadi bagian dari Supply Chain (Rantai Pasokan) atau UMKM Lifestyle.

Oleh karena itu, maka perlu channeling untuk menjadikan UMKM itu yang pertama bagian dari Supply Chain dan Kedua, UMKM yang untuk lifestyle.

“Bagaimana agar UMKM mendapat kemudahan dari economy of skill karena pasti kalah dalam hal pemasaran, riset dan pengembangan/ inovasi, dan pendanaan,” kata Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo saat menjadi pembicara sekaligus membuka acara Workshop dan Temu Bisnis Nasional UMKM II dengan tema “Menembus Pasar Disruptif, Menuju UMKM Tangguh dan Berkelanjutan untuk Mendukung Kekuatan dan Kedaulatan Ekonomi Bangsa” di Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada Rabu (16/10/2019).

Keberadaan UMKM bisa mendapat benefit of skill dan marketing network dengan menjadikan UMKM bagian bagian dari Supply Chain, bagian dari perusahaan-perusahaan besar, upstream-nya bisa di supply dari UMKM.

“Kalau UMKM yang untuk lifestyle misalnya seperti retail warung-warung, makanan, itu kan marketnya sudah ada. Atau, UMKM dengan bentuk usaha SPA, gym, yoga, vilates yang dikelola BUMDes,” tambahnya.

Yang pemerintah lakukan adalah bagaimana menciptakan aktivitas ekonomi di daerah tersebut sehingga bisa kita jaga daya belinya. “Kalau daya beli terjaga warung-warung tetap ada pembelinya,” terangnya.

Lebih lanjut, Eko mengatakan peran perguruan tinggi penting untuk kemajuan pembangunan ekonomi di desa. Ia mengapresiasi UGM yang mengirim mahasiswanya mengikuti KKN Tematik.

“Saya sarankan, sebelum mahasiswa turun ke desa diberikan entrepreneurship skill/ dasar kewirausahaan sehingga waktu turun ke desa bukan hanya bantu masyarakat desa tapi bisa melihat peluang usaha yang ada di desa,” pesannya.

Sementara itu,Rektor Universitas Gadjah Mada Panut Mulyono mengatakan bahwa kegiatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu pilar penguatan ekonomi secara nasional, terutama dalam memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat.

Peran strategis UMKM adalah mendorong proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, pertumbuhan ekonomi, serta mewujudkan stabilitas nasional.

“Peran strategis UMKM adalah penyerapan tenaga kerja, pengolaan sumber daya lokal, pemeratan dan pendapatan masyarakat, potensi usaha yang produktif dan berdaya saing. Kedua, memberi kontribusi ekonomi, pendapatan domestik bruto dan ekspor,” ujarnya.

Lanjutnya, perlu upaya peningkatan kualitas produk, akses pasar, dan pemanfaatan teknologi. Beberapa aspek inovasi UMKM diantaranya inovasi proses produksi, pemasaran dan jaringan dan inovasi dalam desain produk.

“Dengan inovasi tersebut diharapkan mampu bersaing ditingkat lokal dan internasional. Selain itu perlu aspek regulasi, keuangan, kapasitas SDM dan teknologi,” tambahnya.

Adapun beberapa hambatan dan kendala, diantaranya dalam hal produksi dan pengolahan, pemasaran, sumber daya manusia, desain dan teknologi, permodalan, serta iklim usaha.

Oleh sebab itu, menurutnya dalam menghadapi Era Disruptif perlu dilakukan sebuah upaya sinergis yang melibatkan berbagai pihak untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas UMKM. Dengan semakin baiknya kualitas UMKM, maka diharapkan akan semakin baik pula efek ganda (multiplier effects) terhadap penyerapan tenaga kerja.