Kemenhub: Lima Pelabuhan Harus Bersih Dari Korupsi

24
suaramerdeka.com

JAKARTA- Kementerian Perhubungan akan menjadikan lima pelabuhan bebas korupsi, yakni pelabuhan yang menerapkan tata kelola yang baik (good governance) dan terbebas dari praktik-praktik korupsi.

“Kami ada suatu contoh yang baik, Tanjung Priok sudah menjadi daerah bebas korupsi dan mereka telah memberikan apresiasi, dan kami ingin bukan Priok saja, ada lima lagi yang juga pelabuhan bebas korupsi,” kata Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi di sela-sela Rapat Kooridnasi Direktorat Jenderal Perhubungan Laut di Jakarta, Senin (8/4/2019)

Budi menyebutkan lima pelabuhan itu, di antaranya Tanjung Emas-Semarang (Jawa Tengah), Pelabuhan Makassar (Sulawesi Selatan), Pelabuhan Belawan-Medan (Sumatera Utara), Pelabuhan Ambon (Maluku) dan Sorong (Papua).

Dia menjelaskan pelabuhan bebas korupsi tersebut nantinya didorong untuk meningkatkan pelayanan dan menarik investasi dari pihak swasta nasional maupun asing.

Selain dari kualitas, Budi juga mendorong dari segi peningkatan kuantitas, yakni harus mencapai volume yang ditargetkan dan melayani dengan cepat.

“Sebagai contoh volume, kalau Priok 7,5 juta TEUs jadi sembilan juta, katakan Tanjung Perak tiga juta TEU’s, kita targetkan naik 20 persen, karena kenaikan volume ekspor, membuktikan kinerja semuanya bekerja dengan baik, mereka melakukan tingkat level of service yang maksimal,” katanya.

Dia menambahkan pelabuhan bebas korupsi itu akan dijadikan proyek percontohan hingga tahun depan. “Jika menjadikan pelabuhan bebas korupsi maka pelayaran bisa ditingkatkan, kami yakin – jika pelabuhan ini bisa memberikan kinerja yang baik dan melayani – Insya Allah investasi akan berkembang,” katanya.

Seperti diketahui, Pelabuhan Tanjung Priok, terus berupaya menjadi hub Asia Tenggara.
Meski tidak mudah mewujudkannya, namun Pelabuhan Tanjung Priok kini sudah menempati peringkat ke-26 sebagai pelabuhan tersibuk di dunia.

Kapasitas peti kemas Tanjung Priok juga terus mengalami kenaikan. Kalau awalnya masih di kisaran 6 juta twenty-foot equivalent units (TEUs) atau unit ekuivalen dua puluh kaki per tahun, namun saat ini kapasitasnya sudah menjadi 7 Juta TEUs per tahun.

Adalah Jakarta International Container Terminal (JICT) yang merupakan operator untuk mengelola dan mengembangkan terminal peti kemas di Tanjung Priok, termasuk mewujudkan mimpi menjadikan Tanjung Priok sebagai pelabuhan hub Asia Tenggara.

Pada 2018, Presiden Joko Widodo melepas pengiriman ekspor melalui JICT yang dibawa langsung ke Los Angeles, Amerika Serikat, berkapasitas 10.000 TEUs.

Hal tersebut membuktikan bahwa Indonesia telah mampu melayani kapal-kapal besar dengan tujuan langsung (direct vessel), bukan hanya ke Amerika tetapi juga ke Afrika, Australia, Eropa dan tentunya ke negara-negara Asia, tanpa melalui Singapura.

Potensi efektivitas kemudahan ke pasar negara tujuan mendongkrak efisiensi biaya dan waktu logistik perdagangan internasional, tanpa harus tergantung pada kegiatan singgah (transhipment) di Singapura dan Malaysia. ***