Kemenperin Gelar Pameran Kosmetik dan Obat Tradisional

50

JAKARTA-Perkembangan produk kosmetik dan obat tradisional di Indonesia hingga saat ini terus memberikan kontribusi yang cukup signifikan baik dari sisi kapasitas produksi, omzet penjualan, variasi produk, perolehan devisa maupun penyerapan tenaga kerja, sehingga kosmetik dan obat tradisional dapat dijadikan sebagai industri andalan yang mampu menggerakkan roda perekonomian nasional. Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian dalam sambutannya  yang dibacakan oleh Dirjen Basis Industri Manufaktur (BIM) Benny Wachjudipada pembukaan Pameran Industri Kosmetik dan Obat Tradisional di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Selasa , (3/9).

Pameran yang diselenggarakan selama empat hari mulai tanggal 3 – 6 September 2013 diikuti sebanyak 47 perusahaan, terdiri dari 35 perusahaan kosmetik dan 12 perusahaan obat tradisional. Selain itu, 5 instansi pemerintah yang juga ikut berpartisipasi, antara lain Kementerian Kesehatan, Badan POM, Balai Besar Kimia dan Kemasan, Balai Besar Industri Agro, dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatra Utara.

Selain menampilkan berbagai produk kosmetik dan obat tradisonal, pameran juga diisi dengan berbagai kegiatan seperti konsultasi kesehatan, demo tata rias, perawatan tubuh, dan kursus kecantikan pribadi (beauty class) secara gratis oleh PT. Martina Berto, tbk., PT. Mustika Ratu, dan PT. Paragon Technology and Innovation (Wardah Cosmetic).

Pameran tersebut diharapkan dapat mempromosikan industri kosmetik dan obat tradisional dalam negeri yang telah mampu memproduksi dengan kualitas baik sesuai standar Good Manufacturing Practice. Selain itu,dapat mendorong penggunaan atau pemakaian produk dalam negeri sehingga produk kosmetik dan obat tradisional menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Pada tahun 2012 kata dia, industri kosmetik mencatatkan prestasi yang menggembirakan baik dari segi omzet, nilai ekspor maupun penyerapan tenaga kerja. Nilai ekspor tahun 2012 mencapai Rp. 9 triliun dibandingkan pada tahun 2011 sekitar Rp. 3 triliun. Sementara itu, dari segi omzet juga mengalami peningkatan, pada tahun 2013 diperkirakan mencapai Rp. 11,2 triliun atau tumbuh 15% dari tahun 2012 yang mencapai Rp. 9,7 triliun. Sedangkan dari segi tenaga kerja, Indonesia memiliki 760 industri kosmetika yang tersebar di berbagai wilayah dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 75.000 orang secara langsung dan 600.000 orang di bidang pemasaran.

Sama halnya dengan industri kosmetika nasional, industri obat tradisional juga mencatatkan prestasi yang cukup menggembirakan. Hal tersebut terlihat dari omzet yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006, omzet obat tradisional sekitar Rp. 5 triliun dan meningkat pada tahun 2011 yang mencapai Rp. 11 Trilyun. Hingga akhir tahun 2012, omzet obat tradisional sebesar Rp. 13 triliun dan pada tahun 2015 diperkirakan mencapai Rp. 20 triliun dengan nilai ekspor mencapai Rp. 16 triliun. Saat ini, terdapat 79 Industri Obat Tradisional (IOT) serta 1380 Usaha Menengah Obat Tradisional (UMOT) dan Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia terutama di Pulau Jawa dengan menyerap ratusan ribu tenaga kerja.

Selain untuk memenuhi kebutuhan nasional, kata dia produk kosmetik dan obat tradisional juga telah diekspor dan mampu menembus pasar internasional seperti kawasan ASEAN, Jepang,  jazirah Arab, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Afrika. Namun, industri kosmetik dalam negeri cukup mendapat tantangan dengan membanjirnya produk kosmetik impor di pasar domestik. Naiknya nilai impor disebabkan oleh perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN sebagai dampak harmonisasi tarif, importir kosmetik yang melihat Indonesia sebagai pasar potensial, dan importasi kosmetik yang tidak diproduksi di Indonesia dari PMA (Multi National Company/MNC).

Dia mengharapkan, industri kosmetik dan obat tradisional terus memanfaatkan secara optimal potensi bahan baku herbal yang melimpah di dalam negeri, karena akan menjadi peluang usaha untuk meningkatkan daya saing produk nasional. ”Industri kosmetik dan obat tradisional harus mampu bersaing dengan produk impor yang memasuki pasar domestik,” tegas Benny.