Kemenperin Kembangkan Desa Industri Mandiri di Berbagai Daerah

24
Sekjen Kemenperin, Syarif Hidayat memberikan sambutan pada FGD "Pembangunan Desa Industri Mandiri" di Jakarta Kamis (16/6)

JAKARTA-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mengembangkan program Desa Industri Mandiri (DIM) guna membangun industri kecil dan menengah (IKM) berbasis inovasi teknologi di berbagai daerah. Model DIM ini memanfaatkan potensi sumber daya alam secara optimal dengan menghasilkan produk yang bernilai tambah tinggi sehingga meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. “Program DIM ini akan melahirkan wirausaha baru IKM berbasis bioteknologi yang mampu mengolah hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan,” kata Sekjen Kemenperin Syarif Hidayat mewakili Menteri Perindustrian pada Focus Group Discussion (FGD) Pembangunan Desa Industri Mandiri (DIM) di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (16/6).

Pelaksanaan program DIM merupakan amanat Undang-Undang Nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, bahwa pembangunan sumber daya industri meliputi pembangunan SDM, pemanfaatan sumber daya alam, pengembangan dan pemanfaatan teknologi industri, pengembangan dan pemanfaatan kreativitas dan inovasi, serta penyediaan sumber pendanaan. “Program DIM juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa,” ujarnya.

Dalam rangka menyukseskan program DIM ini, kata Syarif, diperlukan sinergi yang harmonis antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kelompok masyarakat setempat serta dukungan pendampingan oleh perguruan tinggi. “Kementerian Perindustrian telah bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang tertuang dalam MoU Implementasi Model Pengembangan IKM dan Wirausaha Berbasis Inovasi Teknologi terkait pengembangan DIM,” tuturnya.

Sejak periode 2013-2015, program DIM telah dilaksanakan di 11 Kabupaten/Kota. “Kabupaten tersebut, diantaranya Bone Bolango (Provinsi Gorontalo), Sidrap (Sulawesi Selatan), Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat), serta beberapa kabupaten di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Lampung,” sebutnya. Syarif menambahkan, pembangunan DIM pada tahun 2016 akan dilaksanakan di empat Kabupaten/Kota, yaitu Sanggau (Provinsi Kalimantan Barat), Minahasa (Sulawesi Utara), Buol (Sulawesi Tengah) dan Blitar (Provinsi Jawa Timur).

Inovasi Teknologi

Sementara itu.  Dirjen IKM Kemenperin Euis Saedah mengatakan, pengembangan inovasi teknologi yang diterapkan pada program DIM selama ini telah teruji keberhasilannya dan cukup banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pedesaan atau pesisir. “Beberapa temuan yang diterapkan itu, diantaranya inovasi bioteknologi pupuk organik cair (POC) dan nutrisi organik cair (NOC), inovasi teknologi pegaraman, serta inovasi  pembuatan  tepung  mangrove,” tuturnya.

Euis mengungkapkan, hasil bioteknologi POC yang diterapkan di berbagai daerah telah meningkatkan produksi dan kualitasnya menjadi organik sehingga mampu mendongkrak harga. Misalnya di Gorontalo, dari rata-rata 4,5 ton per hektare (ha) menjadi 7,4 ton/ha. Sedangkan, pada tanaman jagung di Jember, meningkatkan produksi dari 7,6 ton/ha menjadi 12,7 ton/ha. “Bahkan, ada beberapa petani padi yang memadukan hasil penelitian benih Gorontalo di  Kabupaten  Bone  Bolango, dimana produktivitasnya dapat mencapai 5,10-7,76 ton atau meningkatkan sebesar 52 persen,” paparnya.

Sementara itu, penerapan NOC pada hewan dan ternak dapat meningkatkan produktivitas, penurunan jumlah kematian, penurunan pemberian pakan sekitar 20 persen, penurunan bau kotoran dan peningkatan nilai tambah serta pendapatan. “Aplikasi NOC pada pembuatan model pakan ferami (fermentasi jerami) yang dilaksanakan di Lombok Timur bisa meningkatkan efisiensi penggunaan pakan hijauan,” ulasnya.

Euis juga menjelaskan, hasil penerapan inovasi teknologi pegaraman di Jawa Tengah dapat meningkatkan produksi garam dari rata-rata 70 ton/ha/tahun menjadi di atas 100 ton/ha/tahun. Di samping itu dapat meningkatkan kualitas garam dari K2, K3 menjadi K1, putih, bersih dan homogen serta meningkatkan harga mencapai 30 persen. “Sedangkan inovasi pegaraman lainnya dapat menghasilkan  garam beryodium yang memenuhi syarat SNI atau kadar iodium 30-80 ppm,” ujarnya seraya mengatakan teknologi pembuatan tepung mangrove dari buah mangrove dapat mensubstitusi tepung karena layak sebagai bahan pangan.