Kenaikkan TTL Lemahkan Daya Saing Industri

33

JAKARTA-Kenaikkan tarif tenaga listrik (TTL) yang mencapai 34%  untuk kalangan industri  pada 1 Mei 2014 sangat disayangkan. Karena industri sangat keberatan. Pasalnya dampaknya akan membuat daya saing menjadi lemah dan tidak sehat. “Apalagi kebijakan kenaikan TTL itu tidak terintegrasi, tidak sinergis antara kementerian ESDM dengan kementerian industri sendiri,” kata   anggota Komisi XI DPR RI F-PDIP Maruarar Sirait dalam diskusi soal ‘Kenaikan TTL bagi Industri tahun 2014’ , Kamis (8/5/2014).

Menurut Ara-panggilan akrabnya, pemerintah tidak sinkron dalam membuat kebijakan. Kadang terjadi tumpang tindih di lapangan.  “Harusnya kebijakan itu tidak saling bertentangan dengan kementerian yang lain, dan kenaikan itu tidak merugikan kalangan industri dan rakyat,” ucapnya

Karena itu,  kata Maruarar, pemerintahan baru ke depan harus mampu membuat bukti perubahan kebijakan yang bermanfaat untuk kalangan industri, buruh, dan rakyat. “Kalau kebijakan itu akan makin menyulitkan rakyat,  dan membuat harga-harga naik,  maka tidak perlu dan harus dihindari,” tambahnya

Sementara itu, Ketua Umum API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia) Ade Sudrajat Usman, mengatakan kebijakan Kementerian ESDM sudah ditentang Menteri Perindustrian  MS Hidayat. Namun Kementerian ESDM tak peduli.  “Seolah-olah melindungi industri kecil, malah merugikan karena dari hulu ke hilir akan mengalami kenaikan harga-harga produksi dan memberatkan industri dan masyarakat. . Karena itu pengurangan tenaga kerja tak bisa dihindari. Semua industri akan melakukan yang sama, karena kontraknya jangka panjang,” tambahnya.

Padahal lanjut Ade, pada tahun 2013 sudah naik 15 %, dan kalangan industri masih belum melunasi utangnya sampai Desember 2014 ini. Anehnya, mulai 1 Mei 2014 ini sudah dibebani dengan utang baru. “Ini menunjukkan adanya kesalahan dalam pengelolaan energi nasional, sehingga menyimpang dari jargon untuk meningkatkan daya saing produksi nasional,” jelasnya.

Dengan demikian dampak kenaikan TTL terhadap industri sebesar 34 % tahun 2014 ini antara lain terjadi snowball efect pada biaya produksi, harga satuan produk meningkat sampai 20 %, sehingga menurunkan daya saing di pasar domestik maupun internasional (impor meningkat, ekspor anjlok, neraca menciut), produksi berkurang, pengurangan karyawan (PHK), inflasi meningkat, kontribusi pajak menurun, dan menimbulkan persaingan yang tidak sehat.

Karena itu, solusinya menurut Ade, kenaikan TTL 2014 tidak hanya diberlakukan pada sektor ekonomi produktif, kenaikan TTL harus memiliki prinsip berkeadilan bagi kemajuan bangsa, dan kenaikan itu seharusnya bertahap selama minimal dua tahun. (ek)