Kepala BRG: Restorasi Gambut Tidak Meminggirkan Masyarakat

45

JAKARTA-Badan Restorasi Gambut (BRG) bersama Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti menyelenggarakan  pencanangan pilot restorasi gambut sebagai tanda dimulainya aksi restorasi gambut di lapangan secara resmi. Acara ini bertempat di Desa Sungai Tohor di Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti Selasa (12/4).

Dalam acara yang dihadiri oleh Plt Gubernur Riau, Bupati Kepulauan Meranti, dan Rektor Universitas Riau itu  dicanangkan pula pembentukan Laboratorium Internasional Restorasi Gambut Tropis. Laboratorium ini menjadi pusat pembelajaran aksi penyelamatan gambut di lapangan, yang dilakukan bersama masyarakat.

Pada tahun 2016, sebagaimana diperintahkan dalam Perpres No. 1 Tahun 2016, aksi restorasi gambut dimulai di empat kabupaten yakni Kepulauan Meranti (Riau), Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin (Sumatra Selatan), dan Pulang Pisau (Kalimantan Tengah). BRG telah memetakan daerah restorasi indikatif di empat Kabupaten tersebut.

Kepala BRG, Nazir Foead, mengatakan pencanangan aksi restorasi di Kabupaten Kepulauan Meranti menunjukkan bahwa BRG semakin siap melaksanakan restorasi gambut.

BRG tengah menyiapkan panduan-panduan pembangunan infrastruktur pembasahan gambut (sekat kanal/canal blocking), pembuatan persemaian (seedling nursery), penanaman di lahan gambut, dan pemasangan sumur pipa bor (deep wells).

Selain ituk BRG juga menyusun panduan aksi kolaborasi untuk program Desa Peduli Gambut. “Aksi restorasi di Kabupaten Kepulauan Meranti akan diawali dari Desa Sungai Tohor. Dalam kaitan itu, akan dibangun pula tempat pembibitan anakan jenis pohon lokal serta pembangunan sekitar 20 sekat kanal di Kecamatan Tebing Tinggi Timur,” ujar Kepala BRG, Nazir Foead.

Plt. Gubernur Riau menyatakan dukungan penuh pada restorasi gambut. “Pemerintah daerah dan masyarakat Riau bertekad mensukseskan restorasi gambut untuk kesejahteraan masyarakat. Lahan gambut dan berbagai komoditi lokal seperti sagu telah dikelola turun-temurun oleh masyarakat”, demikian disampaikan Gubernur. RGB2

Pengelolaan gambut oleh masyarakat terintegrasi dengan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. “Pelibatan mahasiswa sebagai duta desa dan relawan serta pelaku riset aksi diharapkan mendukung kegiatan restorasi di Kabupaten Kepulauan Meranti,” ujar Deputi bidang Penelitian dan Pengembangan BRG Haris Gunawan.

Laboratorium Riset Gambut Tropis yang akan didirikan itu menekankan pentingnya riset aksi dalam hal pengelolaan tata air dan vegetasi serta aspek sosial ekonomi budaya lainnya. Kerja sama riset dilakukan dengan berbagai perguruan tinggi. Dukungan internasional semakin menguat, seperti halnya komitmen kerjasama riset aksi dari Universitas Kyoto dan Universitas Hokaido di Jepang.

Penyiapan masyarakat adalah hal penting dalam restorasi gambut. Nazir Foead menegaskan, “Tidak ada aksi restorasi akan berhasil tanpa partisipasi penuh dari masyarakat desa serta kelompok masyarakat sipil. Untuk itu, penyelesaian konflik dan kepastian hak masyarakat atas lahan yang akan direstorasi menjadi prasyarat utama dalam pelaksanaan restorasi gambut.” BRG saat ini mengambil upaya paralel dalam penyiapan masyarakat dan upaya mendorong aksi lapangan yang cepat untuk konstruksi hidrologi dan revegetasi,” pungkasnya.