Ketika Dua Sahabat Bertemu, Kisah Romo Budi Pr dan Menag Lukman Hakim

70
Budayawan Romo Aloysius Budi Purnomo (tengah berjubah hitam) dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (batik kuning) befoto bersama dengan para narasumber dan panitia.

JAKARTA-Ada satu cerita yang menarik diangkat ke publik, ketika dua sahabat lama bertemu di acara seminar nasional, tentang “Membangun Harmoni, Merawat NKRI Melalui Seni Budaya – Dari Jakarta Menuju Ambon” yang diselenggarakan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN), di Gedung Stovia, Jakarta, Rabu (8/8).

Pertemuan antar dua sahabat yang dimaksud adalah, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan budayawan sekaligus rohaniwan Katolik, Romo Aloysius Budi Purnomo Pr dari Semarang. Dengan disaksikan ratusan hadirin seminar, para narasumber dan panitia, kedua sahabat itu saling bepelukan ketika bertemu, saat mau pengambilan foto bersama.

Narasumber dan panitia yang dimaksud adalah Kepala BNN RI Komjen Pol. Heru Winarko, Theofransus Litaay yang mewakili Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Pur) Moeldoko, penyanyi Lisa A Riyanto, Brian “Jikustik” Prasetyoadi, moderator senior Prita Laura, Adrianus Meliala (Ketua Umum LP3KN) dan AM Putut Prabantoro (Ketua Penyelenggara).

“Romo Budi selamat datang,” ujar Lukman Hakim Saifuddin, menyambut kedatangan romo Budi Purnomo yang baru saja masuk ke ruang seminar setelah terbang dari Yogyakarta.

Romo Budi Purnomo segera menghampiri sahabatnya lalu keduanya berpelukan. Hanya saja, yang ada momentum yang menunjukan tingkat persahabatan keduanya dan bagaimana keduanya saling menunjukkan penghormatan dan sekaligus kerendahan hati masing-masing.

Segera setelah berpelukan, Romo Budi Purnomo meraih tangan Lukman Hakim Saifuddin dan menciumnya sambil membungkukan badan sebagai tanda hormat. Aksi yang tiba-tiba itu kemudian dicegah oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dengan segera menolak gerakan tangan Romo Budi Purnomo dan mencegahnya dengan cara membungkukan badan juga seraya memegang pundak rohaniwan itu.

Aksi sesaat kedua sahabat itu mendapat respon dari ratusan para peserta seminar yang hampir bersamaan bertepuk tangan. Suasana menjadi berubah menjadi meriah, dan momen foto bersama diabadikan oleh banyak para peserta dengan menggunakan HP masing-masing.

“Peristiwa ini sangat berkesan. Saya melihat Menteri Agama, bapak Lukman Hakim Saifuddin sebagai sosok yang dibutuhkan Indonesia karena kerendahan hati, lembah mana dan tahu bagaimana menempatkan diri. Saya selalu merasa damai dan adem kalau berdiskusi dengan beliau, pandangan luar biasa, mimpi yang besar tentang Indonesia, tetapi dengan cara santun dalam bertutur kata,” ujar Romo Budi Purnomo.

Menurut Romo Budi Purnomo, Indonesia memang membutuhkan para pemimpin yang memiliki karakter seperti Lukman Hakim Syaifuddin. Jika cara bersikap, bertutur kata, berpandangan para pemimpin bangsa atau penyelenggara negara seperti Lukman Hakim Syaifuddin. Indonesia bisa berharap dan bermimpi besar menjadi bangsa yang besar.

Pertemuan kedua sahabat ini memang tidak berlangsung lama. Namun momentum yang singkat itu sangat berkesan bagi peserta. Nafalia Wowor dari Masyarakat Kawanua di Jakarta, sebagai misal, mengatakan bahwa dia juga terkejut ketika Lukman Hakim Syaifuddin meminta maaf kepada asisten yang membuatkan pidato bagi dirinya untuk acara seminar nasional itu.

Dalam pemintaan maaf itu, menteri agama itu ingin berpidato tanpa teks menyesuaikan suasana yang sudah terbangun sejak awal.