Ketika Toleransi Bukan Sekadar Kata

53

Oleh: Mukhtar Tompo*

Tulisan ringkas ini hanya sebuah catatan perjalanan yang tercecer dalam suatu kunjungan kerja. Dimana saya melaksanakan kerja-kerja legislatif sebagai salah satu tugas kedewanan dan sekaligus pula sebagai pertanggung jawaban kepada publik.

Pada Jumat-Sabtu, 29-30 September 2017, saya berkesempatan menemani Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan melakukan Kunjungan Kerja ke Sulawesi Selatan, tepatnya di Kota Makassar dan Kabupaten Sidrap.

Saya ingin menguraikan sisi lain sosok Ignasius Jonan, karena beberapa fakta mungkin kurang diketahui oleh publik selama ini. Secara pribadi, saya belum terlalu lama mengenal Pak Jonan secara langsung.

Persentuhan saya diawali melalui rapat-rapat formal di DPR. Selanjutnya, saya sudah sering berinteraksi, baik dalam pertemuan informal, maupun melalui media sosial. Beberapa kali pula saya sempat bersilaturahmi langsung ke kantornya.

Kesan saya, sosok menteri satu ini cerdas, gesit, fleksibel, komunikatif, dan ramah.
Secara intelektual dan emosional, Jonan cukup matang. Di beberapa rapat bersama Komisi VII DPR RI, saya termasuk orang yang mengagumi kemampuan berpikirnya yang berwawasan ke depan (futuristik).

Jonan juga sosok yang sangat terbuka terhadap kritik, bahkan jika kritik yang ditujukan kepadanya dianggapnya solutif. Bahkan lelaki kelahiran 21 Juni 1963 ini tak segan bersedia mengubah kebijakan atau pendapatnya.
Kemampuan komunikasinya, membuat rekan-rekan legislator jarang menolak gagasan-gagasannya.
Namun ia bukan hanya gagah dalam beretorika, melainkan juga pekerja keras.

Mantan Dirut PT KAI ini selalu berupaya agar kebijakan yang dihasilkan dapat terimplementasi di lapangan. Dalam bergaul, Jonan cukup ramah dan hangat. Dalam pengamatan saya berinteraksi secara informal, Jonan bukan hanya ramah kepada sesama pejabat, namun kepada staf dan masyarakat luas sekalipun.

Pembawaanya yang ramah tidak berarti Mantan Menhub ini tidak memiliki kemampuan kepemimpinan dan manajerial. Di dalam ruang lingkup Kementerian ESDM, Jonan dikenal sebagai menteri yang tegas.
Kebinekaan dalam Keluarga Jonan adalah seorang penganut agama Katolik.

Namun Alumnus Universitas Airlangga Surabaya ini tidak pernah merasa risih berinteraksi dengan semua kalangan, tanpa memandang latar belakang agama. Bahkan, Jonan pernah memosting foto bersama seorang wanita berjilbab panjang, Dessy Fatmawati. Perempuan itu adalah adik iparnya, istri dari adiknya Yusuf. Meski adiknya beragama Islam, namun Jonan tetap menjaga silaturahmi dengan sang adik.

Jonan sendiri ada enam bersaudara, selain ada Yusuf yang muslim, ada juga adik perempuannya yang menganut Hindu. Kebhinekaan sebagai keniscayaan, di dalam keluarga tidak perlu harus ribut dan bermusuhan.
Membersihkan Masjid,
sikap toleran Jonan bukan hanya ditujukan kepada keluarganya semata. Jonan bahkan pernah terlibat dalam kegiatan ‘bersih-bersih rumah ibadah’, yang digelar oleh Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (17/09/17).

Kegiatan ini digelar di Masjid Jam’iyyatul Iman, Tebet, Jakarta Selatan. Selain aktivis Pemuda Muhammadiyah, kegiatan ini juga diikuti oleh sejumlah aktivis kepemudaan lintas agama. Rombongan Jonan bersama aktivis pemuda lintas agama tersebut, start dari Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya, dengan menggunakan motor vespa. Jonan sendiri dibonceng oleh Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak.

Setiba di lokasi, Jonan turut terlibat membersihkan tempat wudhu dan toilet masjid tersebut. Setelah membersihkan masjid, Jonan menyempatkan diri menjadi pelayan ‘Warung Dhuafa’ milik Pemuda Muhammadiyah. Di warung tersebut, masyarakat miskin diberikan makan siang gratis. Jonan begitu antusias melayani warga sekitar masjid tersebut.
Inilah bukti-bukti sikap toleransi dan sikap saling menghargai yang ditunjukkan Jonan, malah tidak sampai disitu saja. Ketika saya menemaninya meninjau proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu (30/9/17) siang, ia kembali membuat saya terhenyak kagum.

Saat Jonan memberikan sambutan di lokasi PLTB sekitar pukul 15.00 WITA, tiba-tiba dia berhenti dan menyampaikan permohonan maaf, saya dan segenap hadirin agak heran mengapa beliau menghentikan sambutan. Rupanya, sayup-sayup terdengar suara azan, nun jauh dari mushalah petani kebun.

Padahal lokasinya, jauh dari pemukiman masyarakat umum. Seluruh hadirin pun sontak khidmat mendengarkan lantunan adzan. Sulit dibayangkan, seorang Katolik memiliki kepekaan dan penghargaan yang begitu tinggi terhadap umat yang beragama Islam. Bahkan kepekaan itupun mungkin jarang dimiliki oleh pejabat muslim sekalipun.

Sebelum tiba di Sidrap Jonan terlebih dulu menghadiri penutupan Konferensi Studi Nasional (KSN) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Hotel Clarion Makassar. Jonan menyampaikan pesan kepada para mahasiswa agar mempertahankan semangat kebangsaan dan kebhinekaan.
“Oleh para Bapak Bangsa, negara ini didirikan dengan semangat kebangsaan dan kebhinekaan. Kita harus bangun bangsa ini, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, tanpa sekat-sekat SARA sama sekali,” kata Jonan tegas.

Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa,
Ignasius Jonan tidak merasa minder atau merasa menjadi minoritas lantaran memeluk agama Katolik. Menurutnya, sebagai anak bangsa yang menganut ideologi Pancasila, dirinya tidak melihat perbedaan , agama menjadi hal yang membuatnya menjadi seorang minoritas.

Apalagi dirinya merupakan satu-satunya menteri beragama Katolik. Jonan mengaku, perbedaan agama tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk mengabdi pada bangsa dan negara. “Saya 100 persen Indonesia, 100 persen Katolik, dan tidak pernah merasa saya ini minoritas, memeluk agama Katolik, yaitu keyakinan saya sendiri secara pribadi kepada Tuhan yang saya percaya,” kata Jonan.

Sebagai anak bangsa, Jonan tidak pernah merasa sebagai minoritas. Baginya, Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Lebih lanjut, Jonan menjelaskan Indonesia memiliki Pancasila sebagai ideologi dan landasan hidup berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, dengan memandang Pancasila perbedaan suku, agama, ras tidak perlu lagi ditonjolkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam pandangan Jonan, keyakinan adalah persoalan personal, namun dalam membangun bangsa harus dilakukan secara bersama-sama.

Di masa-masa mendatang, Indonesia membutuhkan sosok-sosok pemimpin seperti Jonan. Pemimpin yang tak menjadikan agama sebagai sekat, melainkan agama sebagai suluh inspirasi untuk bergandengan tangan dengan berbagai komponen lainnya, demi membangun bangsa.

Jonan bukan hanya menebarkan toleransi lewat kata-kata, melainkan memberikan contoh dalam perilaku keseharian. Pak Jonan, terima kasih telah menginspirasi!

*)Anggota Komisi VII DPR RI