Ketum APINDO: SDM Unggul Berujung Pada Keahlian dan Menangi Persaingan

26
Sukamdani
Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM, IPU, CMA, MSS (bersalaman) menghadiri ujian terbuka S3 Manajemen di FEB Universitas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di Univesitas Indonesia.

JAKARTA-Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul yang dicanangkan oleh pemerintahan Joko Widodo harus didukung semua institusi perguruan tinggi sebagai arah untuk memersiapkan anak didik yang tidak hanya mampu tetapi juga menang dalam persaingan global. Lulusan perguruan tinggi tanpa terkecuali harus siap kerja dan memiliki kualitas di atas rata-rata dan keahlian agar tidak tergerus oleh tenaga kerja asing yang tidak hanya ditentukan seberapa banyak gelar yang diperoleh.

Kualitas dan keahlian SDM Indonesia akan menentukan seberapa kuat SDM Indonesia akan bersaing dengan tenaga kerja asing yang mau banting harga.

Demikian ditegaskan di Jakarta oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Hariyadi Sukamdani menyikapi pemilihan Rektor Universitas Indonesia, Rabu (21/08/2019).

Menurut Hariyadi Sukamdani, Universitas Indonesia merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, yang menjadi barometer bagi perguruan tinggi lainnya. Secara teori, lulusan dari universitas terbaik memiliki daya tawar yang tinggi untuk dunia kerja. Namun dalam konteks dunia kerja, keahlian dan pengalaman akan menentukan daya tawar seseorang dalam mendapatkan kerja dan kepantasan gaji yang harus diterimanya.

“Belum lama ini di medsos viral tentang lulusan Universitas Indonesia yang menolak gaji 8 juta. Alumnus UI ini menolak gaji yang ditawarkan dengan alasan lulusan Universitas Indonesia. Ini hanya sekedar contoh saja. Berapapun yang diminta oleh calon tenaga kerja adalah sah-sah saja. Tetapi siapa yang mau membayar kalau dia minta tinggi ? Punyakah dia pengalaman kerja, keahlian kalau dia fresh graduate ?” urai Hariyadi.

Untuk dapat bekerja, menurut Ketua Umum Apindo ini, ukurannya bukanlah sekedar ijasah. Ada sederet kriteria yang oleh masing-masing perusahaan sudah dipatok sebagai standardisasi pengupahan di perusahaan tersebut. Kriteria itu termasuk di dalamnya adalah keahlian dan pengalaman, mental siap kerja, kemampuan bekerja dalam tim dan kontribusi calon karyawan kepada perusahaan.

“Presiden dengan mencanangkan program SDM Unggul sebenarnya ingin menjelaskan SDM Indonesia harus memiliki keahlian atau ketrampilan. Sehingga dalam konteks ini diperlukan pendidikan vokasi. Kalau dulu mungkin teorinya 60% dan praktik 40%, dalam konteks SDM Unggul, perguruan tinggi mengubahnya praktik 60% dan teori 40%. Itu berlaku untuk semua mata kuliah. Atau secara sederhananya, pendidikan yang dijalani S-1 tetapi dengan keahlian D-4. Ini tuntutan jaman,” ujar Ketua Umum APINDO ini lebih jauh.

Hariyadi mencontohkan, orang tidak perlu S1 informatika jika ingin menjadi design graphic officer. Sejauh calon karyawan bisa menunjukkan keahliannya dalam bidang tersebut serta persyaratan lain terpenuhi, semua tidak menjadi masalah.

Keahlian dalam konteks seperti ini sudah berlaku bagi generasi milenial sekarang, yang sudah bekerja sebelum mereka mendapatkan ijasah. Bahkan bisa jadi, mereka yang ahli desain itu ternyata jurusan yang diambil adalah Fakultas Hukum.

“Dunia kerja dan pasar kerja sudah berubah. Dan, sebaiknya perubahan pasar ini diantisipasi oleh setiap perguruan tinggi termasuk Universitas Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Rektor yang akan dipilih sudah siap untuk menerima mindset baru atas perubahan yang terjadi ?” tanya Hariyadi Sukamdani.

Dari 21 calon Rektor UI, menurut pandangan Hariyadi, Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM, IPU, CMA, MSS, Lulusan Lemhannas RI PPSA XXI dan mantan Rektor Universitas Mercu Buana (UMB), memiliki kans yang kuat untuk menjadi rektor UI. Alasannya adalah berdasarkan pengalaman sebagai Rektor UMB, Arissetyanto Nugroho telah melakukan program yang sekarang menjadi perhatian Presiden Joko Widodo.

“Ini bukan soal mengada-ada. UMB telah mewajibkan mahasiswanya untuk memiliki setidaknya satu sertifikasi kompetensi. Dan ini harus dimiliki mahasiswa sebelum lulus S-1. Untuk keperluan itu, UMB kemudian membangun Lembaga Sertifikasi Profesi – LSP Universitas tahun 2016. Kemudian karena kepentingan mahasiswanya, UMB mengadakan link and match dengan banyak perusahaan termasuk magang di BUMN,” ucapnya.

“Bahkan untuk mendukung program pemerintah di bidang pariwisata, UMB kemudian membuat Prodi D-3 di bidang MICE – Meeting, Incentive, Conference & Event – dan ini masih sangat langka. Belum lagi, UMB embangun Studio Multimedia Broadcast standar industri sebagai aplikasi kurikulum berbasis kompentensi dengan perbandingan 60% praktik dan 40% teori,” cerita Hariyadi.

Hariyadi menandaskan bahwa perguruan tinggi yang memiliki rektor dengan mindset terbuka adalah perguruan tinggi yang memiliki kesempatan untuk menang dalam persaingan global bagi anak didiknya. Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang memiliki visi ke depan jauh agar mampu menyiapkan generasi baru dalam memenangkan Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat, kuat dan berdaulat.