Ketum Golkar Butuh Pengurus Loyal Dan Berkomitmen

22

JAKARTA-Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto membutuhkan pengurus yang loyal dan bisa bekerja sama untuk memastikan roda partai bisa berjalan baik. Karena itu, munculnya sejumlah nama yang dinilai publik sangat kontroversial, bisa jadi lain di mata Setya Novanto. “Saya melihat, yang diangkat menjadi pengurus Partai Golkar itu teman-teman yang setia dan loyal dengan Setya Novanto,” kata Pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia (UI), Hamdi Muluk di Jakarta, Selasa (31/5).

Menurut Dosen Psikologi Universitas Indonesia (UI), Mantan Ketua DPR RI itu membutuhkan orang-orang tersebut. Karena merasa sudah dekat, loyal dan secara ekonomi bisa membantu keuangan partai. “Tentu juga mereka yang memiliki dana untuk membantu keuangan partai,” jelasnya.

Hamdi menambahkan setelah susunan nama pengurus Partai Golkar beredar di media massa, memang muncul kritik dari publik karena ada nama yang bermasalah secara hukum dan etika. Bahkan publik turut menghakimi bahwa citra Partai Golkar akan hancur ke depannya. “Soal citra bukan sesuatu yang krusial banget, karena itu bisa berubah. Dan tuduhan bahwa dampak citra Partai Golkar akan hancur juga harus bisa dibuktikan, apakah betul pada pemilu mendatang akan melorot? Kita juga tidak tahu. Bisa jadi sebaliknya,” terangnya

Yang pasti, kata Hamdi, saat ini, Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto membutuhkan tim yang solid dan loyal, sehingga tidak masalah jika ia mengangkat teman dekat yang setia, yang juga mau membantu kebutuhan operasional partai.

Sementara itu, menanggapi tudingan miring dari publik, Ketua umum Golkar Setya Novanto memastikan telah memilih kepengurusan secara hati-hati. Bahkan, ia telah mendengar berbagai masukan untuk jajaran pembantunya di partai beringin tersebut. “Pengurus telah disusun secara teliti, hati-hati, dengan masukan dari segala variabel yang ada,” ucapnya.

Bahkan Novanto tak sungkan-sungkan meminta partisipasi masyarakat. “Saya meminta dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar kami bisa menjalankan tugas dengan baik, demi kepentingan bangsa, negara, dan rakyat Indonesia,” tegasnya di Jakarta Barat, Senin (30/5).

Tujuh Alasan

Novanto menamakan kepengurusan baru partai beringin sebagai kepengurusan Akselerasi Kerja yang diisi oleh 247 kader pilihan. “Saya berikan nama kepengurusan Partai Golkar ini sebagai kepengurusan akselerasi kerja,” katanya.

Nama kepengurusan akselerasi kerja dipilih, kata Novanto, karena periode kepengurusan ini hanya sekitar tiga tahun dari 2016-2019, sehingga diharapkan para pengurus bisa bekerja dengan cepat dan terakselerasi menuju pilkada serentak dan pemilu 2019.

Ia menjabarkan tujuh hal yang menjadi pertimbangan dalam penyusunan kepengurusan akselerasi kerja, antara lain:
Pertama berdasarkan tujuan rekonsiliasi sesuai tujuan munaslub Golkar. Sehingga semua dilakukan secara proporsional sesuai aturan organisasi.

Kedua, berdasarkan visi negara kesejahteraan, di mana implementasi kepengurusan tercermin dalam struktur dan pembidangan kerja.

Ketiga, atas dasar keinginan terwujudnya modernisasi dalam partai. Keempat, mencerminkan Indonesia, yakni kebhinnekaan baik dari sisi agama, suku, daerah dan etnis. Kelima atas dasar regenerasi, yakni dengan memberikan ruang seluas-luasnya bagi generasi muda.

Keenam, berdasarkan keterwakilan perempuan. Sesuai amanat Undang-Undang Parpol, maka kepengurusan Golkar telah diisi sekurang-kurangnya 30 persen perempuan.

Ketujuh, atas dasar prinsip “the right man on the right place”, maka jajaran pengurus disesuaikan dengan keahlian dan latar belakang yang dimiliki. ***