Kiai Maman: Jangan Jadikan Kemiskinan Sebagai Komoditas

36
Anggota DPR dari Fraksi PKB, KH Maman Imanulhaq bersama sang Guru, KH Abdurrahman Wahid

JAKARTA-Rupanya gema kesederhanaan yang dipopulerkan oleh Presiden Joko Widodo dengan Kabinet Kerjanya belum sepenuhnya dijiwai oleh beberapa pengambil kebijakan di negeri ini. Semangat kerja dan empati pada persoalan kerakyatan yang seharusnya menjadi urat nadi para petinggi pemerintahan dalam menjalankan tugasnya, rupanya masih menjadi jargon kosong. Bagaimana tidak, jika persoalan kemiskinan, diangkat menjadi topik diskusi dan dilaksanakan di hotel mewah.

Kegelisahan ini disampaikan anggota DPR dari Fraksi PKB, KH Maman Imanulhaq saat Rapat Koordinasi Nasional Sinkronisasi Data Kemiskinan Wilayah Barat di Jakarta, Kamis (11/2).

Rapat yang dihadiri menteri, para pejabat tinggi dari Kementerian Sosial, Kesehatan, Bappenas, Bank Dunia, Komisi 8 DPR, juga bupati/walikota Sumatera dan Jawa ini sungguh jauh dari rupa muram kemiskinan yang menjadi topik diskusi.
Menurutnya, kampanye kesederhanaan yang digaungkan Presiden Jokowi selama ini seakan tidak ada makanya. Bayangkan saja, rapat yang membahas kemiskinan digelar di balairung megah dan mahal di Jakarta Convention Centre Senayan. “ Ini sungguh pembicaraan mulia, yang digelar dengan cara naif ” kata Kiai Maman.

Karena itu tegasnya, mustahil membicarakan kemiskinan di tengah kemewahan seperti itu akan menghasilkan rumusan yang berpihak pada masyarakat miskin. Apalagi semua seremoninya dilaksanakan dengan nuansa yang sarat hedonisme. Ada nyanyi-nyanyi para pejabat dengan band mewah, didampingi perempuan bergaun mentereng yang memandu suara. Ruangan berpendingin berhembus lembut membelai para petinggi negeri yang belum lagi membahas data kemiskinan. “Justru di saat rakyat tengah dihimpit berbagai macam kesulitan hidup,” tegas ulama NU yang biasa disapa Kang Maman ini.

Sebagai individu dan wakil rakyat, KH Maman Imanulhaq sangat menyesalkan dan mengecam kegiatan rapat tersebut. “ Jangan sampai kemiskinan hanya dijadikan angka dan komoditas belaka tanpa memberikan solusi kemanusiaan “ kecamnya