Utang Perusahaan Swasta Perlu Diwaspadai

49

JAKARTA-Otoritas  pembuat kebijakan di Indonesia harus mewaspadai perkembangan yang terjadi pada neraca keuangan perusahaan-perusahaan swasta di dalam negeri  menyusul posisi mata uang rupiah yang terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Langkah antisipasi dilakukan karena sekitar 88 persen dari hutang luar negeri swasta saat ini merupakan hutang berdenominasi dollar AS yang sebagian besar utang digunakan sektor spekulatif. “Dollar AS terus menguat. Dan ini bisa menganggu cash flow perusahaan swasta yang berutang dalam dollar AS. Dampaknya, bisa negatif terhadap kondisi makro kita kalau tidak dicari jalan keluarnya,” ujar pengamat ekonomi Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia, Salamuddin Daeng di Jakarta, Jumat (19/7).
Menurut dia, akumulasi utang luar negeri swasta ini tidak boleh dianggap enteng. Apalagi secara bruto, jumlah  hutang luar negeri terus meningkat jumlahnya. Kenaikan terlihat pasca krisis keuangan global naik sebesar 70 persen dalam tiga tahun terakhir, di mana untuk pertama kalinya hutang luar negeri swasta bruto kini melampaui hutang luar negeri pemerintah. “Dan ini mengkhawatirkan,” kata dia.
Dia mengatakan, peningkatan hutang luar negeri telah mengakibatkan kebutuhan pembiayaan luar negeri Indonesia meningkat tajam sejak tahun 2011. Saat ini, total pembayaran pengembalian hutang tercatat sebesar 43 miliar dollar AS di kuartal IV -2012, atau naik dari 15 miliar dollar AS di kuartal I-2011.
Dia mengaku, cadangan devisa Indonesia tetap dalam posisi yang lebih dari cukup untuk mengatasi kebutuhan keuangan eksternal jangka pendek. Tetapi perlu diwaspadai karena rasio  hutang luar negeri jangka pendek terhadap cadangan devisa terus meningkat dari 40 persen menjadi 50 persen dalam satu tahun terakhir seiring. Ini artinya, peningkatan pertumbuhan pinjaman luar negri yang melebihi dari pertumbuhan cadangan devisa.   Untuk itu kata dia,  pemerintah hasrus menyiapkan skenario mengantisipasi dampak buruk meningkatnya utang swasta. “Kecepatan dari pertumbuhan pinjaman dalam mata uang asing yang berkontribusi sebesar 15 persen dari total pinjaman perbankan juga merupakan sumber penggerak kerentanan nilai tukar,” kata dia.
Gejolak nilai tukar saat ini jelas dia memberi kontribusi kerentanan dari sisi makro ekonomi Indonesia. Penyebab tekanan  ekonomi Indonesia  kata dia adalah meningkatnya impor dan menurunnya ekspor memicu defisit transaksi berjalan.  “Di tahun 2012, defisit neraca berjalan mencapai 24,2 miliar dollar AS, merupakan defisit setahun penuh pertama kali dalam 14 tahun terakhir, yang juga merupakan cerminan dari mengecilnya surplus perdagangan barang yang turun dari 34,8 miliar dollar AS di tahun 2011 menjadi 8,4 miliar dollar AS di tahun 2012,” kata dia.
Selain itu, lanjut dia tekanan terhadap ekonomi Indonesia juga dipicu oleh meningkatnya pembayaran utang pokok dan bunga utang luar negeri yang menyedot devisa. “Keselamatan ekonomi bergantung pada investasi fortopolio dan tambahan utang luar negeri, yang justru akan mempercepat ekonomi ambruk,” jelas dia.
Karena itu, dia meminta pemerintah untuk menahan diri terhadap keinginan berutang sebab beberapa tahun terakhir keseimbangan primer pada APBN selalu negatif.
Pemerintah ujar dia harus  menghemat belanja-belanja rutin seperti belanja barang dan jasa karena boros, daripada menambah utang baru. “Seharusnya belanja-belanja non belanja modal harus dikurangi. Tapi untuk belanja modal tetap harus meningkat,” kata dia