Komodo, Bagaimana Mengaturnya

150
Silvester Deni Harsidi

Oleh: Silvester Deni Harsidi

Rencana Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laskodat, menaikan harga tiket masuk ke Taman Nasional Komodo (TNK) menjadi lima ratus dollar atau sekitar tujuh juta rupiah harus dilihat lebih dalam. Ini masih pernyataan yang mungkin belum tentu itulah persoalan yang sesungguhnya yang hendak diperbaiki dalam mekanisme pengelolaan TNK. Rencana kenaikan harga tiket tersebut bukan persoalan utama. Yang menjadi persoalan utama adalah seberapa besar TNK memberi manfaat bagi masyarakat NTT. Selama ini term komodo milik pemerintah dan masyarakat NTT sebatas nama karena tidak dapat untung apapun. ‘’Itu bukan milik namanya. Kita menonton saja. Itulah sebabnya Gubernur berjuang agar pengelolaan TNK dialihkan kepada pemerintah daerah (Pos Kupang, 3 Desember 2018).

Dari pernyataan Gubernur Viktor Laiskodat tersebut merupakan simbol kekesalan yang dirasakan oleh masyarakat kita pada umumnya. Atau dapat dikatakan, pernyataan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat tersebut merupakan suatu refleksi terhadap fakta yang ada. TNK yang masuk dalam tujuh keajaiban dunia, yang sering dikunjungi wisatawan tetapi kondisi warga yang berada di sekitar kawasan saja masih tetap hidup miskin. Bagaimana mungkin masyarakat NTT yang lain dapat memperoleh manfaat, sementara yang berada di sekitar saja belum merasakannya. Masyarakat di sekitar masih hidup dalam kemiskinan; tidak punya air, gedung sekolah tidak diperbaiki, dan kesehatan meraka belum sepenuhnya terjamin. Inilah ironi yang coba diatasi oleh gubernur NTT. Pengelolaan kawasan TNK harus dipikirkan kembali agar dapat memberi manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan rakyat dan pemerintah Provinsi NTT. Inilah topik besar yang sesungguhnya.

Upaya memperbaiki pengelolaan kawasan TNK, merupakan hal yang wajar, dilihat dari tiga aspek penting. Pertama, TNK merupakan asset yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat NTT. Jumlah pemasukan negara dari TNK pada tahun 2017 berkisar; 27 milyar. Selain memberi masukan kepada negara, TNK juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi kabupaten Manggarai Barat tempat komodo itu berada. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan pendapatan asli daerah (PAD) Manggarai Barat mencapai sembilan puluh delapan milyar pada tahun 2017. Pendapatan yang tinggi itu salah satu kontibusi yang terbesar bersumber dari perhotelan dan restoran.

Impian besarnya adalah TNK tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Manggarai Barat saja, tetapi kabupaten lain, khususnya yang ada di NTT juga dapat merasakan hal yang sama. Ada prediksi yang sangat kuat bahwa perkembangan pariwisata TNK mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan, manakala managemen obyek wisata dan managemen wisatawan yang diatur sedemikian rupa sehingga waktu dan masa tinggal wisatawan tidak hanya selesai di TNK (Labuan Bajo). Labuan Bajo sebagai pintu masuk harus benar-benar mampu menerima tamunya dan mengantar tamunya tidak hanya berhenti di ruang tamu. Dalam konteks seperti itu, Pemerintah kabupaten Manggarai Barat adalah para penerima tamu yang mempunyai tugas menjelaskan kepada tamu tentang hal-hal yang indah yang ada di dalam rumahnya.

Konsep rumah itulah yang perlu dibenahi bahwa rumah pariwisata kita sesungguhnya tidak hanya TNK, TNK hanya bagian depan dan masih banyak bagian rumah NTT ini yang layak dikunjungi oleh wisatawan. Perlu ada upaya, agar wisatawan yang sudah datang melihat binatang Komodo di TNK juga bisa berkunjung ke obyek-obyek wisata di tempat lain; seperti Wae Rebo, Danau Kelimutu dan wisata budaya yang ada di setiap kabupaten yang ada di Flores dan NTT pada umumnya.

Kedua, jumlah kunjungan wisatawan yang datang terus meningkat. Data menunjukan, jumlah wisatawan pada dua tahun terakhir terus meningkat. Pada semester pertama tahun 2018, arus kunjungan sudah menembus hingga 80.598 orang. Pada tahun sebelumnya, tahun 2017 jumlah kunjungan wisatawan pada semester pertama sebanyak 57.873 orang. Dari data ini menunjukan trend kenaikan kunjungan akan terus terjadi. Bisa saja diprediksi tahun 2018, akan ada kenaikan seratus persen jumlah wisatawan dari tahun sebelumnya. Yang lebih mengesankan dari kunjungan wisatawan tersebut, adanya kenaikan yang sangat signifikan, wisatawan itu tidak hanya datang dari mancanegara tetapi domestic sudah mulai tumbuh. Walaupun mancanegara masih mendominasi enam puluh persen sedangkan lokalnya empat puluh persen.

Ketiga, caring capacity TNK. Jumlah wisatawan yang masuk ke TNK saat ini pada satu sisi sangat baik karena dapat membawa keuntungan namun pada sisi yang lain, hal ini membawa tantangan baru karena kawasan TNK adalah obyek pariwisata yang mengandalkan pada aspek kelestarian lingkungan. Jumlah wisatawan yang masih menumpuk di TNK merupakan suatu peluang yang sangat besar untuk diatur agar wisatawan itu bisa diatur sedemikian rupa sehingga mereka dapat berkunjung ke obyek-obyek wisata lain yang ada di rumah NTT. Kendala saat ini, pihak pengelola TNK masih belum memiliki regulasi terkait caring capacity. Kalau sudah memiliki aturan caring capacity, maka TNK sudah memiliki regulasi untuk mengatur kunjungan wisatawan ke TNK. Impian, orang tidak boleh bebas berkunjung ke TNK tidak dapat diselesaikan dengan pernyataan tetapi harus dibangun melalui regulasi khusus.