Komplek Petrokimia Senilai USD3,5 Miliar Dibangun di Cilegon

15
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong, Chairman Lotte Group Shin Dong Bin, Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang Beom melakukan prosesi Ground Breaking secara simbolis pada Pembangunan Komplek Petrokimia PT. Lotte Chemical Indonesia (PT LCI) di Cilegon, 7 Desember 2018.

CILEGON-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong tumbuhnya industri Petrokimia di Indonesia untuk semakin memperkuat struktur manufaktur nasional dari sektor hulu sampai hilir. Sebab, industri Petrokimia menghasilkan berbagai komoditas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pada industri kemasan, tekstil, alat rumah tangga, hingga komponen otomotif dan produk elektronika.

“Industri petrokimia sama pentingnya seperti industri baja, sebagai mother of industry. Untuk itu, kita perlu menjaga situasi lingkungan dan iklim usaha yang stabil agar proyek ini berhasil terlaksana dengan baik sehingga dapat memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian secara keseluruhan,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Peletakan Batu Pertama (Ground Breaking) Pembangunan Komplek PetrokimiaPT. Lotte Chemical Indonesia (PT LCI) di Cilegon, Jumat (7/12).

Berdasarkan karakteristiknya, menurut Menperin, industri Petrokimia dikategorikan sebagai jenis sektormanufaktur yang padat modal, padat teknologi dan lahap energi sehingga perlu mendapat perhatian khsusus dari pemerintah untuk langkah pengembangan yang berkelanjutan.

“Di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, telah ditetapkan industri kimia menjadi salah satu sektor yang mendapatkan prioritas pengembangan agar menjadi pionir dalam penerapan revolusi industri 4.0,” jelasnya.

Untuk itu, Kemenperin mengapresiasi kepada PT. Lotte Chemical Indonesia yang telah merealisasikan investasinya membangun komplek petrokimia senilai USD3,5 miliar atau sekitar Rp53 triliun. Pabrik dengan luas area 100 hektare ini memiliki total kapasitas produksi naphta cracker sebanyak 2 juta ton per tahun.

Bahan baku itu selanjutnya diolah untuk menghasilkan 1 juta ton ethylene, 520 ribu ton propylene, 400 ribu ton polypropylene dan produk turunan lainnya yang juga bernilai tambah tinggi.

Produksi PT. Lotte Chemical Indonesia tersebut untuk memenuhi permintaan domestik maupun global. Dalam proyek pembangunan infrastukturnya, diproyeksi menyerap tenaga kerja langsung hingga 1.500 orang dan dengan tenaga kerja tidak langsung bisa mencapai 4.000 orang pada periode 2019-2023.

“Langkah ini seiring arahan Bapak Presiden Jokowi untuk terus menggenjot investasi, industrialisasi, dan hilirisasi. Upaya ini diyakini meningkatkan perekonomian kita secara fundamental, dengan penghematan devisa dari substitusi impor, dan akan pula dapat memperbaiki neraca perdagangan karena berorientasi ekspor,” ujar Airlangga.

Menperin menyatakan, pihaknya bertekad mendorong percepatan pembangunan komplekpetrokimia tersebut, sehingga mendukung pengurangan impor produk petrokimia minimal 50 persen. “Kami juga berharap agar proyek ini lebih mengutamakan penggunaan komponen lokal. Termasuk tenaga kerja yang akan dilibatkan dalam proyek ini, harus lebih diutamakan dari dalam negeri,” tegasnya.

Dalam upaya memasok tenaga kerja yang kompeten, Kemenperin memfasilitasi pembanguan Politeknik Industri Kimia di Cilegon. “Melalui program pelatihan dan pendidikan vokasi tersebut, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan operator atau tenaga kerja lainnya untuk pabrik ini,” imbuhnya. Pemerintah juga tengah berupaya memfasilitasi untuk pemberian tax holiday.

Chairman Lotte Group Shin Dong Bin menyampaikan, pihaknya berkomitmen untuk turut membantu Indonesia agar perekonomiannya mampu melompat jauh. Untuk itu, melalui investasi ini akan menjadi sejarah dalam upaya menumbuhkan industri petrokomia yang berdaya saing global.

“Semoga proyek kami yang terintegrasi ini bisa menjadi percontohan. Apalagi dengan adanya industri kilang olefin. Selain itu, produk kami dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga mengurangi impor senilai Rp15 triliun,” ujarnya.