Konsep Ekonomi Berkelanjutan Sejalan Dengan Industri Hijau

12
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Menteri Sosial Agus Gumiwang K mendengarkan penjelasan dari mahasiswi AKT Solo, saat meninjau Akademi Komunitas Tekstil di Solo, Jawa Tengah, 31 Januari 2018. Kemenperin menargetkan di tahun 2019 sebanyak 483.409 orang tenaga kerja tersertifikasi yang dapat ditempuh melalui berbagai program strategis, salah satunya ialah unit pendidikan vokasi di lingkungan Kemenperin.

JAWA TENGAH-Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto mengatakan implementasi konsep circular economy atau ekonomi berkelanjutan sejalan dengan standar industri hijau yang mampu berperan meningkatkan daya saing sektor manufaktur untuk masa depan, dengan mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan.

“Sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Penerapan industri hijau merupakan amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.

“Upaya yang dapat dilakukan, di antaranya melalui efisiensi penggunaan sumber daya, penerapan teknologi rendah karbon, penerapan 3R hingga 5R, minimisasi limbah, dan menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK),” imbuhnya.

Oleh karena itu, Menperin mengajak kepada pelaku industri nasional untuk bersinergi mengusung ekonomi berkelanjutan melalui berbagai kegiatan, antara lain melalui pelestarian lingkungan serta peggunaan teknologi bersih, biokimia, dan energi terbarukan.


Recycle ini bukan hanya plastik, tetapi bicara juga kertas, baja melalui scrap, dan kaca yang di-recycle menjadi kaca lagi, termasuk karet. Makanya, industri recycle ini terus kami dorong. Bahkan, di dalam WEF kemarin, didorong pula circular economy untuk perbankan, jadi perbankan untuk mendukung circular economy,” paparnya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara menilai, besarnya kontribusi industri pengolahan dalam ekonomi nasional, diharapkan sektor manufaktur menjadi leading sector dan memberikan dampak luas dalam mentransformasi ekonomi  nasional menuju circular economy.

“Saat ini, industri pengolahan masih menjadi pilar penting bagi ekonomi nasional,” ungkapnya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan III tahun 2018, industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar dalam struktur produk domestik bruto (PDB) nasional dengan porsi mencapai 19,66 persen.

“Kontribusi itu cukup besar, sehingga Indonesia masuk dalam jajaran elit dunia sebagai negara industri,” ungkapnya.

Menurut laporan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Indonesia menempati peringkat ke-9 dunia sebagai negara penghasil nilai tambah terbesar dari sektor industri.

Selain itu, dilihat dari persentase kontribusi industri, Indonesia juga masuk dalam jajaran 4 besar dunia.

“Apabila dinilai dari indeks daya saing global, yang saat ini diperkenalkan metode baru dengan indikator penerapan revolusi industri 4.0, peringkat Indonesia naik dari posisi 47 pada tahun 2017 menjadi level ke-45 di 2018,” paparnya.