Kontribusi Industri Logistik Untuk Ekonomi Digital Sangat Signifikan

81

JAKARTA-Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia membutuhkan antisipasi dalam bentuk peraturan dan kebijakan Pemerintah sesuai dengan dinamika yang ada, agar selaras dengan tujuan pembangunan nasional.

Dalam bidang perposan dan logistik, tugas dan fungsi untuk mengantisipasi dinamika TIK diemban oleh Direktorat Pos Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika (Ditjen PPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika.

“Industri logistik mungkin yang paling banyak dengan pengiriman besar adalah perusahaan. Sekarang terjadi perubahan karena pengiriman secara individual menjadi meningkat karena adanya tokopedia, toko online, dan lainnya. Pengiriman individu juga semakin meningkat bahkan bisa ke luar negeri,” ungkap Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Ahmad Ramli saat membuka Seminar Nasional: Kontribusi Industri Logistik untuk Ekonomi Digital di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (14/05.

Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya pembangunan infrastruktur jalan, pelabuhan, dan bandara yang akan memperkuat arus transportasi dan logistik ke depan.

Selain itu, Kementerian Kominfo ikut berperan dalam mendorong pembangunan broadband nasional melalui program percepatan 4G seluruh Indonesia, pembangunan Palapa Ring, pembangunan satelit multifungsi sehingga jaringan broadband dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Tentu ini akan menjadi arus data yang akan berfungsi menjadi pendukung arus logistik nasional.

“Semua yang awalnya dari sebuah toko, grosir, mall, sekarang sudah tergeser disrupsinya menjadi serba online (virtual). Jika dulu kita harus repot membuat pusat perbelanjaan di daerah, sekarang hanya perlu membangun (gudang) di kota saja,” tambah Dirjen PPI Ahmad Ramli.

Namun terdapat beberapa permasalahan yang timbul dengan tercerminnya dalam peringkat Indonesia berdasarkan Logistic Performance Index (LPI) dari tahun 2014 menduduki peringkat ke 53 menjadi 63 pada tahun 2016. LPI memiliki enam indikator dalam penilaian yang menjadi indikator penilaian yang terdiri dari Customs, Infrastructure, International Shipment, Logistics Competency, Tracking and Tracing, and Timeliness.