Kualitas Bangunan Masjid Al Fauz Rendah

314

JAKARTA-Masjid Al Fauz, yang berdiri di sebelah barat  kompleks gedung wali kota Jakarta Pusat tampak megah terlihat dari luar. Namun ternyata kualitas bangunannya tidak seperti penampakannya. Padahal pembangunan masjid tersebut menelan biaya sebesar 32,6 miliar rupiah menggunakan APBD tahun 2010-2011.

Masjid Al Fauz perencanaannya sudah ada sejak tahun 2004. Pembangunan baru dilaksanakan tahun 2010,  saat Sylviana Murni menjabat sebagai Walikota Jakarta Pusat. Pemasangan tiang pancang pertama dilakukan oleh Muhayat saat menjabat sebagai wali kota.

Proses pembangunan Masjid ini di era tiga walikota,  Muhayat dalam pemasangan tiang pancang, Sylviana saat pelaksanaan pembangunan dan Syaifullah saat penuntasannya.

Demikian cerita satu marbot yang telah diberangkatkan Umroh oleh Syaifullah.

Pilarnya menurut Marbot asal Jawa Tengah yang tidak mau disebutkan namanya, tidak terisi penuh. “Jadi kalo diketuk marmernya akan terdengar  gema. Celah sambungan keramik hanys di tutup dengan lem karet. Ini semua pilarnya seperti itu. Kualitas bangunannya rendah,” tuturnnya.

Pembangunan masjid ini terindikasi korupsi menurut laporan masyarakat, sebagaimana disampaikan Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar (12/1). Pembangunan Masjid Al Fauz yang dibangun di atas tanah bekas makam prajurit tentara Belanda.

Menindak lanjuti laporan masyarakat tim Bareskrim Mabes Polri Kembali melakukan pemeriksaan fisik bangunan Senin,  16 Januari 2016. hal ini diakui oleh Tati Mulyani Kasudin Kominfo.

Dari hasil pantauan yang dilakukan tampak lantai keramik terlihat tidak rata lagi,  dinding keramik tampak kusam dan ada yang retak pada sambungannya hanya ditutup dengan lem karet.  Selain itu pilar yang berhasil dibuka marmernya oleh petugas bareskrim polri tampak pilar mesjid terbuat dari kerangka besi yang dilapisi marmer.  “Saya tidak mengerti bagaimana anggaran itu digunakan, masa dana sebesar Rp32, 6 miliar hasilnya seperti ini,” ujar Selamet Sareat,  70 tahun,  Jamaah Ta’lim Masjid Kebun Jeruk,  Kartini,  Jakarta Pusat,  yang kami jumpai usai sholat juhur.

Selamet asal Ponorogo ini menyampaikan kecurigaannya jika anggaran sebesar 32,6 miliar tersebut tidak semuanya diperuntukkan untuk pembangunan masjid.