Kualitas SDM Ekonomi Syariah Masih Timpang

49
Deputi Gubernur BI, Hendar

JAKARTA-Perkembangan ekonomi dan keuangan syariah yang pesat membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi dan terus meningkat, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Namun sayangnya, permintaan dan penawaran SDM syariah masih timpang. Kondisi ini  merupakan tantangan yang harus dihadapi semua pihak terkait, tidak saja dari kalangan akademisi dan praktisi, namun juga dari regulator dan lembaga multilateral.

Sebagai perwujudan komitmen untuk proaktif mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan Islam di Indonesia, Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan Islamic Research and Training Institute – Islamic Development Bank (IRTI – IDB) menyelenggarakan Seminar “Pengembangan Sumber Daya Manusia (Human Capital Development)” pada tanggal 13 Mei 2016 di Jakarta.

Seminar yang mengangkat tema “Mencetak Sumber Daya Manusia yang Kompetitif bagi Pemberdayaan Ekonomi (Producing Competitive Human Capital for Economic Empowerment)” tersebut menghadirkan Deputi Gubernur BI , Hendar sebagai keynote speaker. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari Pertemuan Tahunan ke-41 IDB Group.

Menurut Hendar, 3 hal yang perlu diadopsi dalam pengembangan SDM syariah. “Pertama adalah ‘link and match’. Pengajaran ekonomi syariah harus dapat menyediakan materi pengajaran yang relevan dengan tantangan terkini, agar siap bersaing dan dapat memenuhi kebutuhan pasar.

Kedua, program pengembangan berbasis teknologi. Saat ini adalah era teknologi digital. Di bidang teknologi keuangan, banyak start-up yang menyediakan jasa keuangan dengan biaya yang lebih murah dan persyaratan yang lebih mudah. Sebagian start-up juga mulai menggunakan keuangan syariah sebagai model bisnisnya. menurut hemat Saya, lulusan ekonomi syariah perlu menguasai pengetahuan di bidang teknologi di level tertentu mengingat industri keuangan saat ini menggunakan teknologi secara masif”, papar Hendar.

Ketiga, menetapkan platform yang kokoh untuk kerja sama antar institusi pendidikan baik secara global maupun domestik. Dengan dukungan teknologi, kerja sama antara pihak yang berbeda dapat dilakukan dengan lebih mudah”, pungkasnya.

Tujuan penyelenggaraan seminar ini adalah untuk mendiskusikan tantangan SDM syariah terkini di negara-negara berkembang terkait pemberdayaan ekonomi. Selain itu, dari diskusi ini akan diperoleh solusi terbaik dalam menghasilkan SDM yang kompetitif di tingkat nasional dan global bagi negara-negara berkembang.

Adapun topik yang dibahas meliputi berbagai hal. Pertama, kebutuhan adanya roadmap tentang SDM yang kompetitif. Kedua, intervensi dan kontribusi IDB dalam membangun SDM yang kompetitif di pendidikan tinggi nasional dan Islam. Ketiga, Beasiswa IDB dan kontribusinya untuk pengembangan SDM di Indonesia. Terakhir, strategi untuk mendorong pengembangan SDM di industri keuangan syariah.

Kegiatan ini diikuti oleh kalangan akademisi, praktisi, pesantren, regulator, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Badan Wakaf Indonesia (BWI), delegasi dari beberapa negara anggota IDB, kementerian terkait, serta lembaga multilateral seperti United Nations Development Programme (UNDP) dan IDB.

Lebih lanjut, dia berharap agar seminar ini merangsang diskusi tentang daya saing SDM. Selain itu, forum ini memberikan akses informasi khusus kepada peserta sembari mendorong diskusi mendalam tentang berbagai isu SDM, termasuk peran pendidikan tinggi nasional dan Islam serta industri keuangan syariah. “Dan pengumpulan dan penyebarluasan bukti nyata yang terpercaya tentang kebijakan penting di bidang pengembangan SDM,” pungkasnya.