Kurs Rupiah Masih Aman

22
Gubernur BI, Agus Martowardoyo/dok antara

JAKARTA-Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan penyelenggaran sistem pembayaran domestik antara pelaku jasa keuangan berjalan normal, di tengah penyesuaian kegiatan ekonomi menyusul adanya aksi unjuk rasa besar-besaran Jumat ini di Jakarta. “Sampai tadi pagi Bank Indonesia (BI) terus amati semua fungsi utama BI berjalan dengan baik, dan terutama dikaitkan dengan pembayaran, terkait sistem kliring, RTGS (Real Time Gross Settlement), semua masih berjalan baik,” katanya di Jakarta, Jumat.

Mengenai potensi timbulnya sentimen negatif terhadap pasar keuangan karena adanya aksi unjuk rasa besar-besaran, BI menyatakan kondisi masih stabil dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. “Tidak ada yang mengkhawatirkan terkait kurs rupiah,” kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara melalui pesan singkat, Jumat.

Pada pembukaan pasar Jumat pagi, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta sempat bergerak melemah sebesar 15 poin menjadi Rp13.080 dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp13.065 per dolar AS.

Sementara, Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), dibuka turun sebesar 18,72 poin atau 0,35 persen menjadi 5.310,78. Bank Sentral menilai, jika terjadi volatilitas di pasar, besaran volatilitas tersebut belum mengganggu stabilitas perekonomian.

Agus Martowardojo menekankan pasar keuangan domestik berjalan stabil. Namun dalam skala global, kata Agus, pelaku pasar memang sedang “risk-off” atau cenderung bersikap menghindari risiko dengan menarik dananya dari pasar keuangan.

Fenomena “risk-off” dalam skala global itu karena pelaku pasar sedang “wait and see” menyusul adanya dinamika dari pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 8 November 2016 mendatang. “Jarak antara kandidat (Hilarry Clinton dan Donald Trump) terus dekat, maka itu di dunia ada risk-off,” kata dia.

Selain itu, “risk-off” itu juga terjadi karena terus menurunnya harga minyak dunia menyusul belum adanya kesepakatan dalam pertemuan di OPEC, dan keyakinan pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve pada Desember 2016 mendatang. “Jadi ada risk-off di dunia. Tapi di indonesia secara umum pasar keuangan stabil,” pungkasnya. ***