Liku-Liku Kehidupan Cak Imin Dalam Adempol

22

JAKARTA-Liku-liku perjalanan politik dan kehidupan keagamaan Cak Imin cukup menarik untuk disimak dalam sebuah buku berjudul “ADEMPOL”.
Buku ini menceritakan banyak seorang panglima santri dalam menapaki berbagai tantangan, termasuk membangun PKB.

Buku ADEMPOL menceritakan perjalanan (biografi) kehidupan agama, demokrasi dan politik, Ketua Umum DPP PKB A. Muhaimin Iskandar dilaunching oleh Fraksi PKB DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (15/4/2019).

Hadir Ketua PBNU Prof. Dr. Ma’shum Mahfud, dan Prof Dr. Lili Romli (LIPI) serta penulis buku Lukmanul Khakim. Penulis menceritakan Cak Imin sejak kecil yang hidup di lingkungan Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur yang diasuh oleh pendiri NU KH. Bisri Syansuri.

Karena itu tak heran, Cak Imin akrab dengan istilah-istilah pesantren saat menjadi aktifvis Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia (PMII) di UGM Yogyakarta, hingga memimpin PKB, menjadi Menakertrans RI, Wakil Ketua MPR RI, dan jabatan spirititual sebagai Panglima Santri. “Panglima Santri tentu sangat berat, karena membawahi 28.000 (dua puluh delapan ribu) pesantren di bawah naungan NU,” kata Lukmanul.

Cak Imin mengaku menggeluti politik diajak oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan aktif di Forum Demokrasi (FORDEM) bentukan Gus Dur bersama kalangan intelektual di Jakarta. Selanjutnya pasca reformasi mendirikan PKB. “Padahal sejak menjadi aktivis di kampus, saya anti partai politik Orde Baru. Tapi, ternyata partai politik itu tergantung orangnya. Kalau orangnya baik, maka akan baik,” katanya.

Sebelumnya Cak Imin bercita-cita menjadi penulis, namun dalam perjalanannya makin kurang bahkan tak lagi memiliki banyak waktu untuk membaca. Sementara membaca itu menurut Cak Imin, sebagai modal dasar agar menjadi penulis yang baik dan berkualitas. “Jadi, bersyukurlah bagi sahabat-sahabat yang masih memiliki banyak waktu untuk membaca,” ungkapnya.

Keluarga besar KH. Bisri Syansuri sendiri memang merasa sangat kehilangan pesantren saat menjadi anggota DPR GR. Sebab, saat itu beliau tak lagi bisa aktif mengajar kitab, ceramah, dan meninggalkan jamaah. “Itulah pahitnya berpolitik bagi santri, dan saya saat ini hanya melanjutkan politik keluarga,” pungkas Cak Imin.