“Link and Match” Terjemahan Dari SDM Unggul

19
Komang Wirawan
Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM, IPU, CMA, MSS bersalaman dengan Presiden Joko Widodo

JAKARTA-Program SDM Unggul-Indonesia Maju yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo memerlukan syarat terjadinya link and match (LAM) antara perguruan tinggi dan dunia kerja . Harus dipastikan mereka yang lulus dari perguruan tinggi memiliki keahlian dan ketrampilan (praktik) di samping ilmu secara teoritis untuk memasuki dunia kerja.

Dengan LAM ini diharapkan, bidang ilmu yang ditekuni sesuai dengan bidang kerja yang dimasuki. Fokus LAM ini tidak bisa diabaikan oleh perguruan tinggi Indonesia termasuk Universitas Indonesia (UI) yang saat ini dalam masa pemilihan rektor baru.

Demikian kesimpulan pernyataan dari Komang Wirawan Ketua Umum Ikatan Alumni Jerman (IAJ) dan Pengusaha Lina SE, yang Alumnus Lemhannas RI PPSA Tahun 2017 terkait dengan program SDM Unggul – Indonesia Maju di Jakarta, Minggu (25/08/2019).

Ketua Umum Ikatan Alumni Jerman (IAJ), Komang Wirawan menegaskan bahwa substansi dari dari pendidikan perguruan tinggi salah satunya adalah mampu menjawab kebutuhan dunia kerja Indonesia atas SDM Unggul.

Tanpa mengurangi rasa hormat,” demikian dijelaskan Komang Irawan, sebagian besar perguruan tinggi Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan dunia kerja Indonesia. Pengangguran dengan kualifikasi pendidikan lebih tinggi terjadi karena para lulusan fresh graduate tidak dapat bekerja dan akhirnya memilih untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Permasalahan yang terjadi adalah, pendidikan yang lebih tinggi belum tentu menjamin lulusannya memasuki dunia kerja dan kemudian menghasilkan pengangguran elit.

“Keberhasilan perguruan tinggi adalah ketika lulusannya memenuhi link and match antara dunia pendidikan dan industri. Di Jerman, terdapat Perguruan Tinggi Technische Hochshule Rosenheim (THR)yang memiliki Fakultas Holztechnik und Bau atau Teknik Perkayuan dan Bangunan. Peran Fakultas ini yang pada dasarnya mirip-mirip vokasi di Indonesia,” ujar Komang Wirawan.

Menurut Ketum IAJ itu, visi perguruan tinggi Jerman itu membentuk mahasiswa yang menguasai teknologi pengolahan kayu dan bangunan. Mahasiswa praktik kerja di industri selama 6 (enam) bulan dengan mentor di tempat praktik sehingga mengenal dengan baik teknologi yang digunakan, sistem kerja dan problematika di industri.

Selain itu, lulusan dari perguruan tinggi ini menjawab kebutuhan para insinyur (engineer) yang diakui siap kerja oleh industri dan dunia internasional, meneliti serta meningkatkan teknologi pengolahan kayu agar prosesnya lebih efisien, hemat energi dan produknya lebih baik, serta mengembangkan produk baru dan aplikasi atau pemanfaatan kayu yang baru.

“THR ini juga melakukan inovasi peralatan dan bahan atau material yg berkaitan dengan pengolahan kayu, dengan visi memberi dampak positif bagi industri kayu khususnya bagi produksi kayu olahan. Setahu saya, Universitas Mercu Buana telah melakukan link and match model ini dan perlu dicontoh,” ujar Ketum IAJ itu.