LPRS Gelar ASEAN TALK#5

36
Founder and Director LPSR, Prita Kemal Gani

JAKARTA-London School and Public Relations (LPSR) Jakarta menggelar ASEAN TALKS#5 bertemakan “Telling The Unique Story of ASEAN Community atau kisah unik tentang organisasi regional ASEAN di Dr. Djajusman Auditorium and Performance Hall, LPSR, Jakarta, Jumat, (16/9).

ASEAN TALKS merupakan agenda rutin Centre for ASEAN Public Relations Studies LPSR- Jakarta. Ini merupakan gelaran ke 5 ASEAN TALK, sekaligus meresmikan Centre for ASEAN Autism Studies sebagai pusat kajian autism dan Communication for Autism skala regional ASEAN.

Hadir dalam talkshow ini sebagai pembicara utama Jose Tavarez, Direktur Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri serta Prita Kemal Gani, Founder and Director of LPSR.

Jose Tavarez menegaskan posisi ASEAN Community yang merupakan salah satu dari pilar Masyarakat Ekonomi ASEAN (Asean Economic Community).

Jose Tavares berbagi ilmu dan pengetahuannya tentang ASEAN bersama Prita Kemal Gani, serta mengupas tuntas isu terkini terkait dengan ASEAN.

ASEAN kini diibaratkan sebagai seorang “gadis muda yang cantik” sehingga banyak negara-negara besar kepincut dengan ASEAN. Bahkan ASEAN berkembang begitu pesat kurun waktu 5 dekade terakhir ini. “ASEAN begitu “sexy” di mata dunia karena memiliki potensi yang besar di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, infrastruktur hingga pariwisata,” ujarnya.

Jose Tavarez mengajak mahasiswa LPSR yang hadir untuk “flashback” perjalanan ASEAN sejak didirikan oleh lima negara pendiri pada deklarasi Bangkok 8 Agustus 1967. Saat itu, Indonesia bersama Thailand, Singapura, Malaysia, dan FIlipina mendirikan ASEAN.

ASEAN memiliki karakter sejak dahulu hingga kini juga tetap menjunjung politik laur negeri bebas aktif dan tidak berpihak pada poros kekuatan dunia.  “Ada pengaruh dari politik bebas aktif Indonesia. ASEAN tidak berpihak pada Barat ataupun Timur,” papar Tavares.

Gadis muda cantik bernama ASEAN ini memiliki daya tarik yang memikat karena memiliki kekuatan dan kekayaan, yakni budaya (culture) dan keberagaman (diversity). ASEAN bagaikan mozaik yang memiliki banyak warna sehingga membuat ASEAN begitu indah dan memikat di mata dunia.

Mozaik berwarna-warni ini melambangkan eksistensi ASEAN yang makin menancapkan pengaruhnya di kancah pergaulan internasional. “Kunci dari kemajuan ASEAN adalah menghargai keberagaman,” tegas Tavares.

Tavarez mengakui banyak sekali negara-negara besar yang ingin melakukan hubungan kerjasama secara komprehensif dengan ASEAN. Negara-negara besar yang menjadi poros dunia saat ini,  ASEAN telah berhasil membuat kawasannya aman selama 5 dekade terakhir, sehingga pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN begitu pesat.

Namun masih ada tantangan kedepan yang harus dihadapi oleh ASEAN, seperti keamanan Laut China Selatan, konflik di Semenanjung Korea, terorisme, perdagangan manusia,  hingga kompetisi dua negara besar dunia, Amerika Serikat dan China. “ASEAN itu sangat seksi, banyak yang naksir, makanya mudah bikin cemburu negara besar. Kalau sering bertemu China, Amerika Serikat cemburu, kalau sering bertemu Amerika, China yang cemburu. Makanya kita selalu coba untuk seimbang pada dua kekuatan dunia ini,” ujar Tavarez.

LPSR yang memiliki Centre for ASEAN PR Studies mendorong agar adanya relasi dan kedekatan sesama negara ASEAN karena jarak masing-masing negara yang berdekatan. Indonesia terutama, harus lebih memebrikan perhatian lebih kepada negara-negara tetangga di ASEAN. ASEAN berdiri diatas cita-cita yang sama diatas keberagaman kultur, budaya, bahasa dan wisata yang bermacam-macam.

LPSR mendorong agar Indonesia memiliki “new relation”, yakni tidak hanya berinteraksi dengan sesama warga Indonesia dalam negeri saja, tapi mulai menjalin interaksi dan kerjasama, baik secara komprehensif maupun people to people dengan amsyarakat ASEAN. “Kita selama ini fokus apda negara-negara jauh. Kita tahu apa yang terjadi di Paris, Washington, tapi kita tidak tahu ada apa di Laos, Kamboja,” kata Prita Kemal Gani, Founder and Director LPSR.

Apalagi, dari segi pendidikan, semua negara-negara ASEAN memiliki generasi muda yang bertalenta dan punya ratusan kampus berkualitas, sehingga sangat memungkinkan untuk masing-masing universitas dan perguruan tinggi di ASEAN saling bekerjasama secara terbuka satu sama lain.  “ASEAN itu market sharenya nomor 3 di dunia. Layaknya gadis cantik, ASEAN diminati oleh banyak pria (negara-negara dunia),” kata Prita.

Acara ASEAN TALK#5 ini diakhiri dengan acara peresmian Pusat Kajian ASEAN untuk Autism (Centre for ASEAN Autism Studies (CAAS), yang merupakan bentuk aprtisipasi LSPR-Jakarta dalam melakukan kajian-kajian komunikasi dan autisme dalam ruang lingkup Health Communication for Autism dan Media and Disability Studies skala regional ASEAN.  CAAS diharapkan dapat berperan melakukan berbagai macam kegiatan meliputi penelitian, pendidikan, pengabdian masyarakat, serta konsultasi, workshop, seminar, diskusi, bedah buku, dan publikasi.
ASEAn TALK#5 juga menjadi kejutan bagi Dirjen Kerjasama ASEAN Jose Tavares yang berulang tahun tepat pada hari ini. Prita Kemal Gani selaku founder and director LPSR bersama 50 mahasiswa penyandang autisme memberikan kejutan kue ulang tahun kepada Jose Tavares.