LPS Catat Premi Pinjaman Tumbuh 23,08 persen

45

JAKARTA-Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat premi pinjaman pada 2012 (unaudited) sebesar Rp 6,201 triliun atau tumbuh sebesar 23,08 persen bila dibandingkan pada periode yang sama pada 2011 sebesar Rp 5,038 triliun. Untuk aset juga mengalami kenaikan sebanyak 26,49 persen menjadi Rp 34,867 triliun pada 2012 dari sebelumnya Rp 27,565 triliun.
Direktur LPS Mirza Mochtar, saat Media Gathering, di Kantor LPS, Jakarta, Kamis, (7/2), mengatakan, selain kenaikan premi penjaminan, LPS juga mencatat ada kenaikan dari hasil investasi sebanyak 13,33 persen, menjadi Rp 1,275 triliun pada 2012, dari sebelumnya sebanyak Rp 1,125 triliun. “Pendapatan operasi dari premi penjaminan meningkat 23,08 persen menjadi Rp 6,20 triliun dari Rp 5,03 triliun. Sedangkan hasil investasi bersih naik 13,33 persen menjadi Rp 1,27 triliun dari Rp 1,12 triliun,” ujar dia.
Selain itu, LPS juga mencatat terjadi kenaikan dari sisi ekuitas sebanyak 40,05 persen, dari Rp 23,425 triliun pada 2012, dan sebelumnya Rp 16,726 triliun pada 2011.
Dalam hal ekuitas, cadangan tujuan tercatat sebesar Rp 3,885 triliun pada 2012, naik sebanyak 52,65 persen dari sebelumnya sebesar Rp 2,545 triliun, dan cadangan penjaminan menjadi Rp 15,540 triliun atau naik sebanyak 52,63 persen, dari sebelumnya Rp 10,181 triliun.
Dia menambahkan, rincian modal awal pemerintah tidak berubah, yakni masih Rp 4 triliun, cadangan tujuan naik 52,65 persen menjadi Rp 3,88 triliun dari Rp 2,54 triliun, dan cadangan penjaminan meningkat 52,63 persen menjadi Rp 15,54 triliun dari Rp 10,18 triliun.
Sementara itu, Kepala Eksekutif LPS Mirza Adityaswara menambahkan, tahun ini LPS berencana akan menerapkan kebijakan premi diferensial. Kebijakan premi ini bisa saja menurunkan tingkat premi kepada industri perbankan, tapi tidak menutup kemungkinan juga menaikkan tingkat premi tersebut. “Untuk penerapan sistem diferensial itu kami tidak ingin terburu-buru. Kita harus siap dulu. Kita menyadari memang industri ingin premi itu turun. Tapi, jangan lupa bahwa ketika premi turun, maka premi bisa naik juga. Ketika ekonomi terjadi krisis, maka bisa saja premi naik. Seperti orang sakit saja, bayar preminya kan akan lebih tinggi”, tandas Mirza.