Luhut: Stop Fitnah Beri ‘Amplop’ ke Kiai

17

JAKARTA-Sebuah Video Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia Luhut Binsar Panjaitan memberi amplop kepada Kiai Zubair Muntasir di Bangkalan, Madura beredar di jagat maya.

Namun Luhut menganggap tidak ada yang salah dengan pemberiannya kepada ulama Pondok Pesantren Nurul Cholil di Bangkalan itu. Pemberian dinilai wajar karena sang ulama sedang sakit.

“Kunjungan saya ke Pondok Pesantren Nurul Cholil Bangkalan pada Sabtu 30 Maret 2019, merupakan bentuk silaturahmi. Silaturahmi di pondok pesantren sudah biasa saya lakukan sejak menjadi Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya di Madiun Jawa Timur pada tahun 1995,” tegasnya.

Bagi Luhut, keberadaan pesantren telah menjadi pilar penting untuk menjaga kekokohan NKRI. “Dari kebiasaan itulah saya mulai mengenal almarhum Gus Dur yang kemudian banyak mengajari saya tentang tradisi pesantren, sejarah Islam, dan tentang Islam yang membawa kedamaian,” jelasnya.

Khusus mengenai kunjungan ke Bangkalan, Luhut mengaku sengaja menjenguk KH. Zubair Muntasor yang memiliki masalah kesehatan.

“Tentu hal ini tidak patut saya ceritakan ke publik secara lebih mendetail karena privasi Beliau,” terangnya.

Sebagai tamu yang dijamu dan disambut dengan hangat, Luhut mengatakan hanya dapat membalas dengan memberi bisyaroh sekedarnya untuk membantu pengobatan KH Zubair.

“Sayapun lebih dulu diberi oleh-oleh berupa batik dan batu akik. Begitulah tradisi yang kami lakukan untuk menjaga tali silaturahmi,” imbuhnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 15 menit, LBP menitipkan pesan agar jangan sampai ada umat atau santri yang golput pada Pemilu 2019.

“Saya menyesalkan adanya pihak-pihak yang mengatakan telah terjadi jual beli suara dalam pertemuan tersebut. Bagi saya, fitnah yang keji itu mencoreng kehormatan terutamanya KH. Zubair Muntasor dan pondok pesantren yang diasuhnya,” pintanya.

Luhut mengimbau kepada para elite agar mengedepankan pikiran jernih ketimbang prasangka buruk, dan hati yang bersih ketimbang hati yang penuh kecurigaan. Ajaran hubungan dan jalinan silahturahmi yang sudah diajarkan turun temurun oleh para leluhur kita jangan dirusak oleh kepentingan sesaat para elite.

“Sebelum bertindak bertanyalah dan berdialoglah dengan hati nurani yang paling dalam untuk melakukan sesuatu yang terbaik,” pungkasnya.