Majelis Hakim Harus Pertimbangkan Kesaksian Ulama Otoritatif NU

Majelis Hakim Harus Pertimbangkan Kesaksian Ulama Otoritatif NU

0
BERBAGI
Rais Am PBNU KH Masdar F Mas'udi

JAKARTA-Keterangan saksi ahli agama dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yakni KH Ahmad Ishomuddin dan KH Masdar F Mas’udi dalam persidangan dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama membuat tuduhan penistaan agama ini menjadi sumir. Apalagi keduanya adalah ulama otoritatif yang mempunyai posisi formal di ormas terbesar di Indonesia ini.  “Hadirnya ulama-ulama yang otoritatif seperti Kiai Ahmad Ishomuddin dan Kiai Masdar F Mashudi menguntungkan posisi Ahok. Karena ulama ini menduduki posisi terhormat di PBNU yaitu Rais Am dan Rais Syuriah PBNU,” ujar peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakir di Jakarta, Jumat (31/3).

Seperti diketahui, KH Ahmad Ishomuddin adalah Rais Syuriah PBNU, sedangkan KH Masdar F Mas’udi tak lain adalah Rais Am PBNU.

Dalam keterangan dimuka persidangan, dua ulama yang dihadirkan penasihat hukum Basuki Tjahaja Purnama ini menegaskan tidak menemukan adanya unsur penghinaan agama dalam pidato yang menyinggung surat Al Maidah ayat 51.  “Kalau keterangan kedua saksi ahli agama ini diperhatikan oleh majelis hakim maka semakin mempertegas posisi Ahok yang tidak bisa disalahkan dalam kasus ini,” terangnya.

Dia berharap majelis hakim mempertimbangkan sungguh-sungguh keterangan ahli agama otoritatif ini. Apalagi, ulama ini yang memberi kesaksian ini bukan berasal dari ormas yang lahir kemarin sore, tetapi ulama dari kalangan NU yang nota bene memberi kontribusi yang sangat besar bagi negara ini.  “Karena itu, jika majelis hakim tidak mempertimbangkan keterangan ulama NU ini maka majelis hakim tidak mempercayai ulama-ulama yang memiliki otoritatif. Dan saya berharap, kesaksian ini sangat signifikan untuk membalikan keadaan,” harapnya.

Santri akses medsos

Ketua Nurcholish Madjid Society, M. Wahyuni Nafis menilai
Kehadiran Kiai Ishom dan Kiai Masdar di persidangan Ahok sangat strategis. Hal ini menguntungkan posisi Ahok. Karena kedua ulama NU ini memiliki santri, maupun pengikutya (followers) yang sangat signifikan jumlahnya. “Kiai itu, walaupun bicara sedikit diruang yang tidak terlalu ramai, tetapi pasti menjadi ramai. Apalagi sekarang ini jaman medsos yang memudahkan santrinya mengakses apa pernyataan kiainya,” tuturnya.

Secara substansi, Nafis sependapat dengan Kiai Ishom dan Kiai Masdar bahwa Ahok tidak menista agama. Namun ini dibawa ke ranah politik sehingga menjadi sangat sensitive. “Orang-orang Islam kan banyak yang mengatakan Ahok tidak bersalah. Jadi, karena ini menyangkut Ahok saja masalah ini kemudian diperbesar,” jelasnya.

Sementara itu, peneliti Populi Center Usep S. Ahyar melihat kehadiran dua tokoh NU ini membantu meringankan kasus hukum Ahok. Apalagi, keduanya adalah ulama yang dihormati di NU. “NU di Jakarta memiliki pengikut yang sangat besar. Dari hasil survey, NU menjadi salah satu ormas yang sangat dihormati. Ini melegitimasi tafsir-tafsir yang meringankan pak Ahok,” jelasnya.
Secara politik dalam konteks pilkada lanjutnya, kehadiran dua ulama ini sangat menguntungkan posisi Ahok. “Asalnya, tim kampanye pak Ahok bisa memaksimalkan fakta yang ada,” ujarnya.

Bukan Warga NU

Terkait dengan sikap segelentir orang yang membully ulama NU ini, Amin Mudzakir memastikan bahwa pelaku pembully ulama NU itu pasti bukan orang NU. “Saya pastikan, pembully Kiai Ishom dan Kiai Masdar bukan warga nahdilin,” tegasnya.

Dalam tradisi warga NU itu, meskipun secara politik beda pilihan, tetapi jika yang memberi pendapat itu Rais Am dan Rais Syuriah PBNU maka pasti mereka hormati. “Dan jangan lupa, Kiai Ishom itu direkomendasikan oleh ulama besar Indonesia, KH Sahal Mahfudz. Kiai yang sangat dihormati sehingga warga nahdilin akan sungkan,” tuturnya.

Amin melihat yang membully Kiai Ishom di medos itu adalah orang yang tidak paham tentang posisi Kiai Ishom di PBNU. “Kalaupun ada warga NU tidak suka dengan pandangan beliau, tapi mereka pasti sungkan untuk membully karena beliau orang yang sangat terhormat di NU,” pungkasnya.