Manfaatkan PLPB, Indonesia Negara Kedua Setelah AS

14
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar

JAKARTA-Tahun 2018, Indonesia memiliki kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) mencapai 1.948,5 mega watt (MW). Dengan capaian tersebut, menempatkan Indonesia pada posisi kedua di dunia setelah Amerika Serikat dalam memanfaatkan panas bumi sebagai tenaga listrik.

Secara geografis, Indonesia yang memiliki sekitar 500 gunungapi, dimana 127 diantaranya merupakan gunungapi aktif menjadikan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan energi panas bumi.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menekankan bahwa Pemerintah mendorong agar setiap wilayah selalu melihat potensi kearifan lokal yang ada untuk memenuhi kebutuhan energinya, terutama energi baru terbarukan.

Arcandra juga meminta agar generasi muda jangan hanya percaya kepada isu-isu yang tidak benar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk mencari kebenaran bahwa panas bumi itu ramah lingkungan atau tidak, perlu adanya keterbukaan dan pembelajaran dengan benar apa itu panas bumi. “Kita percaya atau tidak jika panas bumi itu ramah lingkungan. Kalau percaya, mari kita cari jalan keluarnya, tapi kalau kita tidak percaya bagaimana kita mencari jalan keluarnya, bukan hanya mencari pembenaran”, ujar Arcandra saat menyampaikan Kuliah Umum di Universitas Bung Hatta, Padang, Kamis (24/1).

Untuk itu, Arcandra berpesan kepada generasi muda agar mengubah pola pikir, membuka pikiran hingga jauh kedepan dan melakukan sesuatu yang nyata serta bermanfaat bagi orang banyak.

“Saya sarankan kepada generasi muda, orang lain sudah sampai kemana mikirnya, tapi kita masih bicara tentang ramah lingkungan apa tidak,” kata Arcandra.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengatakan bahwa Provinsi Sumatera Barat sudah mendeklarasikan sebagai lumbung energi hijau.

Saat ini, sekitar 36 persen energi yang dipakai di Sumatera Barat berasal dari energi terbarukan atau lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Irwan mengimbau kepada mahasiswa yang hadir untuk berkiprah dan memikirkan teknologi atau teknik apapun agar anugerah yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat sebagai rasa syukur kepada Tuhan.

“Jadi kita ini ibaratnya masih belum bersyukur, karena mubazir, di depan mata jadi tontonan tanpa kita manfaatkan, padahal kita bisa mengembangkannya,” tutur Irwan