Marzuki : Perbaiki Defisit Neraca Perdagangan

34

JAKARTA-Ketua DPR Marzuki Alie, mendesak pemerintah untuk secepatnya memperbaiki defisit neraca perdagangan yang sudah mengkhawatirkan, sekitar  minus US$6 miliar.   “Sebaiknya segera mengambil langkah tepat untuk mengurangi defisit kembar, yakni defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan,” katanya di Jakarta, Kamis, (2/1/2014).

Yang sangat mendesak, kata Marzuki, itu bagaimana meminimalisir defisit perdagangan. Karena inilah yang membuat rupiah makin tertekan. Akibatnya, nilai rupiah terus merosot. “Saya perkirakan rupiah, tetap agak sulit kembali menguat,” ujarnya.

Menurutnya, tekanan impor BBM inilah yang membuat defisit neraca perdagangan sulit dikurangi.  Tampaknya konsumsi BBM makin tinggi, sehingga impor BBM  juga tak bisa dikurangi. “Untuk mengalihkan ke konsumsi BBG, ternyata infrastruktur gasnya belum bisa dibangun secara cepat,” terangnya.

Padahal cadangan gas, lanjut Marzuki sangat melimpah ketimbang minyak. Sudah seharusnya penggunaan BBG direalisasikan agar impor BBM bisa ditekan.

Ditempat terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengungkapkan secara akumulatif neraca perdagangan Januari-November 2013 masih mengalami defisit US$5,6 miliar.  Rinciannya, neraca perdagangan migas defisit US$11,837 miliar dan neraca perdagangan nonmigas surplus US$3,3672 miliar. “Pada periode yang sama 2012 lalu, surplus nonmigas 3,3672 miliar dolar AS.  Di sisi nonmigas, peningkatannya lumayan.  Tapi, migas konsumsinya tinggi sehingga masih defisit,” ujarnya

Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamukti memprediksi defisit neraca perdagangan akhir 2013 bakal berada meningkat ke level US$ 6 miliar sampai US$ 8 miliar. “Dengan memperhatikan pola pertumbuhan ekspor maupun impor hingga September 2013 dan pola triwulan IV selama 2 tahun terakhir, maka defisit neraca perdagangan diperkirakan akan berkisar US$ 6 miliar-8 miliar,” terangnya

Dengan tak ada perubahan neraca perdagangan hingga saat ini, Bayu menilai kebijakan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dilakukan pemerintah pada bulan Juni lalu belum memperlihatkan pengaruhnya. “Saya cek tidak ada penambahan kilang, tapi impor minyak mentahnya tinggi, kan ini harus diolah tidak langsung dipakai seperti impor BBM. Dari Januari hingga September saja impor BBM hanya 1,2%, secara keseluruhan impor BBM kecil. Ini kami harus cermati. Ekspornya crude turun 15%, tapi impor crude naik 29,3%,” tegas Bayu.

Untuk mengatasi permasalahan defisit neraca perdagangan akibat neraca Migas, Wamendag mengusulkan perlunya langkah fundamental salah satunya diversifikasi energi minyak ke energi lain. “Dengan tingkatkan penggunaan biofuel, saat ini sudah 67%, dan kita harapkan ada yang lain, seperti energi air, matahari, angin, investasi dibidang itu cukup besar,” tuturnya. **cea