Massa Kembali Demo, Ancam Bakar Gereja Santa Clara

100
Aksi demonstrasi menolak pembangunan Gereja Santa Clara Bekasi

JAKARTAPastor Paroki Gereja Santa Clara Bekasi, Jawa Barat, Romo Raymundus Sianipar, OFMCap membantah melakukan pelanggaran hukum dengan memanipulasi data dan tandatangan warga yang mendukung  pembangunan gereja Santa Clara di Bekasi Utara.

Romo Ray menegaskan, pihaknya tidak sembarangan dalam mengurus izin. Mereka sangat tertib dan disiplin dalam hal administrasi. “Selama 17 tahun kami mematuhi semua persyaratan dan peraturan. Kami sabar dan telaten meski tantangannya tidak sedikit menggerus pikiran, emosi, perhatian dan sebagainya,” tegas Pastor Ray menanggapi tudingan kelompok demonstrasi yang menolak pembangunan Gereja Santa Clara di Bekasi, Jumat (25/11).

Sebelumnya kurang dari 500 orang dari beberapa organisasi Islam Garis Keras kembali melakukan demontrasi, menolak pembangunan gereja Santa Clara di Bekasi Utara. Sejak pukul 13.30, usai Sholat Jumat mereka secara bergelombang mendatangi lokasi yang terletak di Jl. Kaliabang, Bekasi Utara.

Secara bergantian, para ustad berorasi menuding pihak Santa Clara telah melakukan pelanggaran hukum, memanipulasi data dan tandatangan warga pendukung. Karena itu mereka menyatakan menolak pembangunan Gereja Santa Clara. Jika tidak diindahkan mereka berjanji akan berdemo terus. Ustad Ismail malah mengancam akan membakar Gereja Santa Clara jika tetap dibangun.

Umat Merayakan Misa di trotoar
Umat Merayakan Misa di trotoar

Menurut para orator, jumlah umat Santa Clara hanya segelintir sehingga tidak perlu memiliki gereja dan kalau harus memiliki gereja agar membangunnya di tempat lain.

Menyangkut tudingan bahwa umat Katolik di tempat ini hanya segelintir, Sekretaris Dewan Paroki Rasnius Pasaribu menjelaskan bahwa umat Paroki Santa Clara saat ini mencapai 9.422 jiwa dan tersebar di seantero Kecamatan Bekasi Utara. Umat tersebut terbagi dalam 11 wilayah dan 58 lingkungan di bawah penggembalaan 4 orang pastor.

Dengan jumlah umat sebanyak tersebut, namun belum memiliki bangunan gereja, pihak pengurus gereja kesulitan memberikan pelayanan yang maksimal.

Untuk sementara, umat Santa Clara merayakan Misa di sebuah Ruko di Perumahan Wisma ASRI. Ruko yang mereka gunakan hanya mampu menampung sekitar 300 orang sementara umat yang datang mengikuti Misa mencapai 800-an orang. Umat yang tidak kebagian tempat di dalam, menghampar di luar duduk menggunakan kursi plastik di halaman ruko (jalan).

Yang sungguh merepotkan tatkala hujan turun saat Misa berlangsung. Umat harus berdesak-desakan di dalam Ruko dan menepi di teras rumah penduduk. Jika tetap tidak kebagian tempat, sejumlah umat pasrah menggunakan payung atau rela diguyur hujan. “Seperti tanggal 13 November lalu. Kami harus menggunakan payung dan menepi di rumah tetangga. Kami tidak menganda-ada,” ujar Rasnius sambil menunjukkan beberapa foto yang menunjukkan umat yang mengikuti Misa menggunakan payung.

Jpeg

Seperti diketahui, IMB Gereja Santa Clara diterbitkan oleh Walikota Kotamadya Bekasi Rahmat Effendi pada 28 Juli 2015 setelah melalui berbagai tahapan verifikasi yang berkali-kali selama 17 tahun. “Seluruh persyaratan kami penuhi  dengan baik dan benar. Semuanya ada dokumentasinya,” kata Rasnius lagi.

Lebih lanjut Rasnius menjelaskan, isu lain yang biasanya diembus-embuskan adalah,   Gereja St. Clara adalah gereja terbesar se-Asia. “Dari mana kemampuan kami mendirikan gereja sehebat itu? Tanah kami hanya 6.500 M2, dan di atasnya kami bangun gereja seluas 1.500M2, lalu ada balai pengobatan dan rumah pastor. Belum lagi tempat parkir dan ruang terbuka hijau,” jelas Rasnius sambil memohon doa agar semua ujian ini bisa dia dan saudara-saudarinya di Santa Clara bisa lewati. Dia juga meminta kepada warga yang menolak agar mau membuka tangan, hati dan diri untuk menerima mereka. “Kita kan bersaudara, setanah air dan seperjuangan,” pungkas Rasnius.