Masuknya Modal Asing, Awal Kehancuran Bangsa

37
photo ilustrasi

SOLO-Indonesia menjadi surga bagi investasi asing. Hingga saat ini, triliunan rupiah dana asing masuk ke berbagai instrument investasi domestic.  Derasnya aliran kekuatan modal asing mulai dikhawatirkan.

Rektor Universitas Muhammadiyah, Surakarta, Bambang Setiaji menilai  modal asing yang masuk ke Indonesia memiliki daya rusak yang tinggi. Hal ini menjadi titik awal dari kehancuran bangsa ini. “Misalnya, kehancuran  lingkungan, kultur, religiusitas serta mendorong pekerja menjadi berorientasi terhadap uang dan sekuler,”  ujar Bambang disela-sela seminar bertajuk “MEA DAN PERANG GENERASI KE-IV” yang diselenggarakan STIE/ABA St. Pignatelli, Surakarta, di Solo, Kamis (28/4).

Hadir juga sebagai pembicara Mantan WaKASAD, Letjend TNI (Purn) Kiki Syahnakri, yang juga Ketua Jati Diri Bangsa dan  Rektor Universitas Katolik Atma Jaya, Jogyakarta Dr. Gregorius Sri Nurhartanto, SH. LL.

Dia mengaku, pengaruh global dan efek Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), cukup dilematis bagi Indonesia. Di satu sisi, masuknya modal asing memang diperlukan untuk menambah lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi. Namun karena globalisasi di mana area perdagangan bebas merupakan sebuah kesepakatan yang tidak dapat dihindari.

Menurutnya, masuknya modal asing tanpa ada pembatasan akan menjadikan Indonesia akan dikuasai atau dijajah secara ekonomi dan budaya.   “Pembatasan ini dimaksud untuk melindungi rakyat terutama generasi saat ini yang akan kelak memimpin Indonesia. Pemerintah harus mendorong rakyat untuk bangkit dari segala keterbelakangannya,” tegasnya.

Sementara itu, Sri Nurhartanto, mengatakan, daya saing Indonesia dalam menghadapi globalisasi termasuk MEA masih sangat lemah. “Di saat negara lain menggarap SDM nya sedemikian rupa untuk meraih keunggulan termasuk membangun kekuatan ekonomi, Indonesia justru disibukkan oleh euforia demokrasi. Termasuk pemilihan kepala daerah yang beruujung pada tindak pidana korupsi,” ungkapnya.

Menurutnya, Indonesia sekarang sudah berada dalam Perang Generasi Keempat (G-IV). Sayangnya, banyak generasi muda dan bangsa Indonesia menyadari. Padahal, perang ini tidak kasat mata dan sangat halus masuknya melalui ekonomi ataupun pengaruh budaya. “Terlambat menyadari dan juga mengatisipasi akan menempatkan Indonesia yang kaya akan sumberdaya pangan dan air dikuasai oleh negara hegemoni,” ulasnya

Dia mengaku, pemerintah, pemimpin bangsa dan generasi muda tidak mempunyai pilihan lain dalam menghadapi Perang G-IV ini. Untuk itu,  pendidikan jati diri  bangsa dan harus dikedepankan.

Karena itu, Indonesia harus menjadi sebuah bangsa yang berkarakter dan berjati diri. “Sepanjang sejarah, Indonesia adalah sebagai bangsa besar yang terpuruk dan tidak pernah solid karena senantiasa menyediakan diri untuk dipecah belah,” tegasnya.

Seminar “MEA dan Perang Generasi Keempat” ini merupakan yang kedua menyusul pda bulan lalu STIE/ABA St. Pignatelli juga mengadakan seminar yang bertemakan “MEA dan Tantangan Dunia Pendidikan Indonesia”