Masyarakat Indonesia Kurang Disiplin dan Lemah Dalam Leadership

63
Dari kiri ke kanan : Dr drh C Novi Primiani MPd (Dekan F-MIPA IKIP PGRI Madiun), Franciscus Welirang (Pengusaha Nasional), Prof Dr Jamal Wiwoho SH MH (Irjen Kemeristek Dikti / Staf Khusus Presiden RI) dan moderator Didik Kartika (wartawan)

SOLO- Indonesia harus menghapus mental tidak disiplin dan sekaligus mengembangkan kepemimpinan (leadership) guna memenangi ketatnya persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tanpa perubahan sikap mental yang mendasar, dunia akan terus mengecoh Indonesia dan tidak mungkin melawannya.

Demikianlah hasil kesimpulan dari seminar nasional bertajuk “MEA dan Tantangan Dunia Pendidikan Indonesia” yang diselenggarakan STIE / ABA St. Pignatelli, Solo, Selasa (29/3).

Hadir sebagai pembicara adalah, Franciscus Welirang (Pengusaha Nasional), Prof Dr Jamal Wiwoho SH MH (Irjen Kemeristek Dikti / Staf Khusus Presiden RI), dan Dr drh C Novi Primiani MPd (Dekan F-MIPA IKIP PGRI Madiun) dan yang dipandu oleh Didik Kartika (Wartawan).

Menurut Franky, Indonesia tidak akan dapat menghindar dari dinamika globalisasi tersebut. Tak seorangpun dapat menyiasati dunia yang senantiasa berubah dan memberikan dampak secara nyata atas kehidupan sebuah negara dan rakyatnya.  “Dengan hampir lebih 60 persen rakyat berpendidikan Sekolah Dasar, yang diperlukan oleh Indonesia untuk menghadapi globalisasi dunia termasuk pasar perdagangan bebas negara ASEAN atau yang sering disebut MEA, yang dituntut adalah perubahan sikap mental yang mendasar,” terangnya.

Di hadapan 300 peserta seminar dari berbagai kalangan, Franciscus Welirang menegaskan, perubahan sikap mental terutama dalam hal kedisiplinan dan kepemimpinan adalah kunci kesuksesan Indonesia dalam menghadapi MEA dan perdagangan bebas lainnya. Dengan jumlah penduduk ASEAN sebanyak 600 juta orang, Indonesia harusnya memenangi persaingan dalam MEA karena merupakan negara terbesar dengan penduduk sebanyak 247 juta orang.

Untuk itu, Indonesia harus menghapus mental tidak disiplin dan sekaligus mengembangkan kepemimpinan. “Namun Indonesia tidak mungkin menjadi pemenang dalam MEA karena sekalipun berpenduduk paling besar, tetapi kualitas pendidikannya rendah karena 60 persen penduduknya berpendidikan. Ini juga diperparah bangsa Indonesia tidak bermental disiplin serta lemah dalam kepemimpinan. Kelemahan Indonesia hanya bisa diatasi dengan segera jika kita sepakat merubah mental tidak disiplin dan membangun kekuatan kepemimpinan (leadership),” ujar Franciscus.

Perubahan mental itu disepakati oleh Irjen Kemenristek dan Dikti, Jamal Wiwoho yang mengatakan perubahan mental harus dilakukan dari dunia pendidikan dan diakui mutu pendidikan Indonesia harus ditingkatkan dengan upaya ekstra.

Menurut Jamal yang juga Staf Khusus Presiden itu, mutu pendidikan merupakan faktor kelemahan daya saing Indonesia di samping beberapa faktor lain termasuk ketersediaan dan kualitas infrastruktur, rendahnya pasokan energi, sektor Indonesia yang sangat tergantung pada pasokan bahan baku dari impor dan serbuan barang-barang nonMEA termasuk dari China.

Yang harus dilakukan oleh dunia pendidikan antara lain adalah meningkatkan penelitian dan sikap kritis ingin tahu, melakukan banyak kerjasama (kolaborasi) yang saling menguntungkan, meningkatkan kemampuan yang berbasis pada intelektualitas dan membekali diri dengan keahlian dan kompentensi kerja siap pakai.

Sementara Novi Primiani menegaskan, dunia pendidikan tidak memiliki pilihan lain kecuali menyiapkan diri dan anak didiknya dalam menghadapi globalisasi. MEA menciptakan persaingan nyata dalam perdagangan dan dampaknya adalah seberapa cepat SDM Indonesia meningkatkan kualitasnya.  “Siap tidak siap, perguruan tinggi di seluruh penjuru Indonesia, yang berada di kota kecil atau besar, negeri atau swasta, S1 hingga S3 akan mengalami dampak dari globalisasi secara nyata. Mereka yang tidak siap bertarung hanya akan menciptakan pengangguran dan ini merupakan beban berat bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan,” ujar Novi Primiani.