Megawati:BLSM Merendahkan Kehormatan Rakyat

43

SURABAYA- Langkah pemerintah memberikan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) kembali dikeritik. Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menilai penyaluran BLSM ini merendahkan derajat dan kehormatan rakyat Indonesia. “Kemana yah harga diri dan kehormatan kita. Apa sih artinya uang Rp150.000,” kata Mega, saat memberikan orasi politik di sela-sela deklarasi pasangan calon gubernur Jatim yang diusung PDI Perjuangan, Bambang DH-Said Abdullah, di Blitar, Sabtu (6/7).

Seperti diketahui, pemerintah mengucurkan bantuan berupa dana sebesar Rp 150.000 bagi warga miskin yang diberikan selama empat bulan. Kebijakan ini diambil sebagai kompensasi dari keputusan pemerintah menaikkan harga BBM.

Menurut Mega, pemberian BLSM itu tidak ada manfaatnya bagi masyarakat. Pasalnya, harga kebutuhan pokok saat ini melambung tinggi. “ Saya ingin tanya, berapa harga daging, harga cabai, harga bawang, harga beras berapa, harga jengkol berapa? Diatas Rp 100.000. Coba dibayangkan, masa harga diri dan kehormatan kita cuman Rp 150 ribu perak atau setara dengan harga bahan pokok, “tegas Mega.

“Masa harga diri kita kurang lebih sama dengan harga daging, harga cabai, harga jengkol. Dimana kehormatan kita sebagai manusia?,” jelas dia.

Mega mengaku, kritiknya terhadap BLSM ini bukan bermaksud memanas-manasi rakyat. Tetapi sangat aneh, dana dengan jumlah trilunan rupiah tidak dipergunakan untuk membenahi infrastruktur seperti jalan dan sarana air bersih disetiap kampung. “Daripada menyalurkan dana BLSM, lebih baik memperbaiki infrastruktur masyarakat di Indonesia,” tandas dia.

Mega sangat prihatin dengan kondisi rakyat saat ini yang harus antri  untuk mendapatkan bantuan yang merupakan kompensasi dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) itu.

“Kita malu ditonton bangsa lain. Hanya uang Rp 150.000, rakyat harus antre. Bahkan, pembagian itu sering kali menelan korban karena terinjak akibat antrean tersebut. Apakah enggak ada cara lain dari negara itu untuk membuat anak bangsanya lebih berharga dan lebih cerdas lagi,” kata Mega.

Kritik lainnya, kata Mega, ada dari warga yang mendapatkan BLSM ternyata tergolong mampu. Sebaliknya, ada warga tak mampu yang tak mendapatkan bantuan itu. Menurutnya, hal itu menunjukkan kinerja yang kurang maksimal dari pemerintah.

Penolakan Mega terhadap cara instan memberika bantuan langsung ke rakyat bukan pertama kali. Pada tahun 2009 lalu, Mega terang-terangan menolak adanya dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Indonesia. “Waktu itu, please, saya usulkan jangan pake BLT. Saya sangat tidak setuju dengan BLT diberikan kepada orang per orang. Tapi rupanya penolakan itu dipelintir seseorang kalau Megawati tidak simpati kepada orang banyak,  ibu Mega tidak pro rakyat kecil,”lanjutnya.

Tetapi coba lihat sekarang. Masyarakat harus mengantri untuk mendapatkan uang Rp 150 ribu atau Rp 300 ribu untuk 2 bulan. “Saya sering nonton televisi. Apa jadinya bangsa ini kalau pemberitaan soal BLSM ini dilihat orang asing. Hanya segini ya harga rakyat Indonesia, hanya Rp 150 ribu, sudah terbeli. Kapan timbul yang namanya kehormatan diri,” ujar Mega dengan nada tanya.

Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Said Abdullah menilai pemberian BLSM kepada warga miskin tak lebih dari sekedar “obat luar”. Panas dan efektif sesaat, setelah itu efeknya hilang. “Itu hanya obat untuk mengatasi “symptom” bukan pembasmi akar penyakitnya. Masyarakat sih pasti senang-senang saja kalau dikasih bantuan, apalagi berupa uang,” jelas dia. Masalahnya kata Said, jumlah dan masa pemberian uang itu tidak cukup memadai kalau dikaitkan dengan ide bahwa kebijakan ini adalah menyesuaikan psikologi masyarakat terhadap gejolak kenaikan harga barang-barang akibat kenaikan harga BBM. “Harga 9 kebutuhan pokok saat ini menggila. Dan masyarakat tidak tertolong dengan itu BLSM,” jelas dia.