Memutus Mata Rantai Kematian di Papua

52

Oleh: Gusty Masan Raya, S.Fil

Persoalan pembangunan kesehatan di Tanah Papua selalu menjadi isu hangat dan sensitif untuk diulas. Realitas menunjukkan bahwa pemerintah belum memenuhi standar pelayanan kesehatan yang memadai, layak, berkualitas dan merata kepada seluruh rakyat Papua sesuai amanat UUD 1945 dan Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua No 21 Tahun 2001.

Masalah dana selalu menjadi alasan klasik pembangunan kesehatan di Bumi Cenderawasih. Ditambah lagi dengan kondisi geografis, kultur, sosial, dan ekonomi yang menantang, membuat derajat kesehatan masyarakat Papua tetap terpuruk. Angka mortalitas dan morbiditas terus meningkat dari waktu ke waktu, usia harapan hidup menurun, dan generasi Papua kian hari kian terancam punah. Padahal, Pemerintah Pusat setiap tahun menggelontorkan dana Otsus yang sangat besar sejak 2002 untuk membangun kesehatan di Papua.

Pertanyaanya: “Apa sebenarnya problem utama dalam membangun kesehatan di Papua? Apa pula solusi untuk mengatasi sejumlah problem dan tantangan pembangunan kesehatan di Papua?” Kedua pertanyaan ini dijawab dengan lengkap oleh direktur RSUD Abepura, drg. Aloysius Giyai, M.Kes, dalam bukunya berjudul “MEMUTUS MATA RANTAI KEMATIAN DI TANAH PAPUA Bercermin Pada Fakta RSUD Abepura.”

Buku setebal 465 halaman ini memiliki empat tema besar yang enak dibaca. Bagian pertama berupa otobiografi singkat penulis, mulai dari pengalaman dan keterbasan hidup sang penulis di masa lalu, perjuangannya bersekolah menjadi dokter hingga diberi kepercayaan dan tanggung jawab memimpin RSUD Abepura. Bagian kedua berisi sejarah dan perkembangan RSUD Abepura yang dipimpin sang penulis. Bagian ketiga tentang problematika pelayanan kesehatan di RSUD Abepura, solusi dan kebijakan yang diambil Sang Penulis sebagai direktur, serta hasil yang diperoleh selama tiga tahun kepemimpinannya. Bagian keempat memuat konsep dan strategi pembangunan kesehatan di Tanah Papua dari  penulis selaku praktisi kesehatan di Papua.

Mengawali buku in dengan sajian otobiografi singkat, tidak dimaksudkan penulis untuk menonjolkan diri. Sebab di antara keempat tema besar yang diulas dalam buku ini, ada satu benang merah yang menghubungkan antarabagiannya yakni INPIRASI dan KOMITMEN. Pengalaman kesakitan dan keterbatasan sang penulis di masa lalu, menjadi inspirasi bagi lahirnya komitmen dan kerja kerasnya untuk memajukan dan meningkatkan pelayanan di RSUD Abepura yang dipimpinnya sejak 2009. “Hanya Satu Keinginanku: Agar Anak-Anak Papua di Masa Mendatang, Tidak Menderita Sakit Sepertiku, Apalagi Meninggal Seperti Saudara-Saudariku di Masa Lalu, Melainkan Mereka Tumbuh Menjadi Generasi Yang Sehat dan Cerdas,” begitu nazar Sang Penulis di awal buku ini.

          Ditulis dengan kajian semi-ilmiah dipadu pengalaman hidup dan karya kerja nyata sang penulis sebagai direktur RSUD Abepura hingga menggondol empat belas penghargaan, membuat buku ini layak dibaca oleh semua kalangan. Perjuangan sekolah dan kuliah di tengah keterbatasan ekonomi dari sang penulis hingga menjadi dokter mengajarkan banyak nilai pedagogis dan spritual yang bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi generasi muda yang tengah studi. Di sisi lain, keberanian sang penulis sebagai birokrat yang mengkritik tirani kekuasaan dan pengambil kebijakan pembangunan kesehatan di Tanah Papua serta menawarkan solusi yang konstruktrif memberi makna demokrasi yang harus ditiru.

Lebih daripada itu, komitmen tegas sang penulis untuk MEMUTUS MATA RANTAI KEMATIAN DI TANAH PAPUA dengan aneka kebijakan revolusioner membangun dan memajukan RSUD Abepura akan membuka mata pembaca bahwa pembangunan kesehatan di Tanah Papua tak hanya butuh dana semata, tetapi juga HATI BERSIH dan KASIH PUTIH para pemimpinnya.