Mendag: Daya Tarik Investasi Indonesia Kalah dengan Vietnam

Mendag: Daya Tarik Investasi Indonesia Kalah dengan Vietnam

0
BERBAGI
Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas T Lembong saat menerima Kunjungan Menteri Luar Negeri Norwegia

JAKARTA-Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas T Lembong mengakui negara tetangga Vietnam lebih menarik dan kompetitif dalam menarik investor asing, bila dibandingkan dengan Indonesia.  Salah satu indikasinya,  produsen elektronik asal Korea Selatan, Samsung lebih memilih untuk membangun pabriknya di Vietnam ketimbang Indonesia.

Thomas mengatakan, sejak delapan tahun lalu, Vietnam gencar menggaet investor asing untuk berinvestasi di negaranya. Vietnam pun sudah menyiapkan kemudahan-kemudahan bagi investor. “Tujuh sampai delapan tahun lalu mereka giat mengundang investor asing. Vietnam sangat kompetitif menawarkan tax insentif sebanyak 30 tahun, infrastrukturnya juga lengkap,” kata Thomas Lembong, dalam diskusi Kadin di Hotel Mandarin Oriental, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (1/6).

Thomas juga menyebutkan, ekspor nonmigas Vietnam telah melebihi Indonesia dengan porsi sekitar USD160 miliar. Ekspor tersebut seperempatnya yakni USD40 miliar merupakan sumbangan dari Samsung. “Tahun lalu ekspor nonmigas Vietnam sudah melampaui Indonesia. Vietnam USD160 miliar. Dan seperempatnya itu dari Samsung Electronic,” ungkapnya.
Tom melanjutkan, bukan hanya dari sisi industri elektronik yang mengalami ketertinggalan dari Vietnam. Vietnam juga mengungguli Indonesia dalam merampungkan Comprehensive Economic Partner Ship Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa. Vietnam juga merupakan pendiri Trans Pasific Partnership (TPP). “Praktis kita tidak dilihat. Filipina malah masih dilihat,” ucapnya.

Dia menambahkan, Vietnam juga sudah punya akses bebas ke Eropa dan Amerika Utara. Itu yang membuat Indonesia kalah dengan Vietnam. “Jadi saya kira mulai banyak pabrik dari Indonesia ke Vietnam atau dari Filipina ke Vietnam. ‎Dengan Free Trade Agreement, Vietnam punya akses bebas ke Eropa, Amerika Utara. Sementara kita dengan dikenai tarif saja bisa kalah 10 persen sampai 12 persen,” tuturnya.

Lebih lanjut, Tom mengatakan Indonesia sudah ketinggalan soal perjanjian kerja sama perdagangan bebas jika dibandingkan negara lain, khususnya di kawasan ASEAN. Padahal perjanjian kerja sama semacam ini mampu membawa banyak dampak ‎positif bagi ekonomi Indonesia.

Saat ini katanya, Indonesia hanya memiliki 10 perjanjian perdagangan. Jumlah tersebut kalah jika dibandingkan dengan Singapura yang memiliki 26 perjanjian perdagangan bebas dan‎ Malaysia sebanyak 18 perjanjian. Bahkan Indonesia kalah dengan Thailand dan Filipina yang memiliki 15-16 perjanjian perdagangan bebas. “Harus diakui kita sangat ketinggalan dibanding negara saingan kita soal FTA (free trade agreement)‎. Kita harus mengejar ketertinggalan. Dan buat saya itu maklum saja, karena waktu komoditas lagi booming, terus terang kita nggak butuh,” terangnya.

Thomas menyatakan, minimnya perjanjian perdagangan bebas karena selama ini Indonesia terlalu mengandalkan sumber daya alam (SDA) yang melimpah di dalam negeri sebagai komoditas ekspor. Sehingga Indonesia merasa tidak perlu mengikuti perjanjian perdagangan bebas dengan negara lain.

Namun hal berbeda dilakukan oleh Vietnam dan Filipina yang tidak memiliki banyak SDA. Mengerti dengan kelemahannya tersebut, maka sejak lama kedua negara ini serius untuk mendorong terjalinnya perjanjian perdagangan bebas dengan negara lain. Hal tersebut dilakukan agar produk-produknya bisa dengan mudah diekspor ke negara lain.

“Mereka cenderung nggak terlalu giat menggalang FTA. Justru saat komoditas lagi booming, negara seperti thailand Vietnam justru sedang giatnya mengembangkan FTA,” pungkasnya.