Mendag Janji Benahi Mata Rantai Pasokan Daging

Mendag Janji Benahi Mata Rantai Pasokan Daging

0
BERBAGI
Mendag, Enggartiasto Lukita/photo Raja Tama

TANGERANG-Harga daging sapi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecederungan stabil pada tingkat harga yang tinggi. Di Pasar Modern Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang misalnya harga daging sapi masih stabil tinggi di angka Rp 120.000 sampai Rp 130.000/kilogram (kg). Harga ini terbilang tidak turun, padahal pemerintah menargetkan harga daging sapi segar dijual Rp 80.000/kg. Kondisi ini tentu cukup memberatkan baik bagi konsumen maupun pedagang karena omzetnya semakin turun.

Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita menargetkan harga daging sapi segar bisa turun di bawah Rp 100 ribu per Kg dalam waktu dekat.

Tingginya harga jual daging sapi di tingkat konsumen dipengaruhi mata rantai pasokan komoditas ini sejak dari impor tempat penggemukan sapi (feedloter) pejagalan, sampai ke pedagang eceran di pasar.

Untuk diketahui, harga jual karkas dari pejagalan dibanderol Rp 88 ribu-Rp 90 ribu per Kg sehingga harga daging sapi masih dipatok Rp 120 ribu-Rp 130 ribu per Kg. “Ada mata rantai yang panjang sejak dari impor, ambil produksi di penggemukan sapi, pejagalaan sampai ke konsumen. Nanti kita akan lihat cost structure-nya, berapa untung yang diambil karena pada dasarnya pengusaha boleh untung tapi tidak berlebihan yang akan menyengsarakan rakyat,” tegas Enggar usai blusukan ke Pasar Modern BSD dan Pasar Anyar, Tangerang, Banten, Minggu (7/8).

Mendag blusukan ke pasar rakyat, Pasar Anyar Tangerang, untuk mengetahui perkembangan harga komoditas pangan, seperti beras, bawang merah, cabai, gula, dan daging sapi. “Ini tugas yang dimandatkan Presiden Jokowi kepada saya, yaitu mengendalikan harga pangan. Rakyat harus mendapatkan harga pangan yang terjangkau dengan tetap membuat kesinambungan dunia usaha,” tegasnya.

Mendag mengaku kedatangan ke pasar Modern BSD ini untuk memastikan harga pangan pokok terjamin ketersediaannya dan terjangkau harganya, khususnya harga daging. Target dalam jangka pendek, sambungnya, Kemendag akan menurunkan harga daging sapi di pasaran dengan harga di bawah Rp 100 ribu. Pemerintah akan meminta jaminan harga daging rendah tersebut kepada para pengusaha. “Kalau mereka untung berlebihan, saya akan gelontorkan suplainya biar mereka terganggu. Targetnya harga daging sapi di bawah Rp 100 ribu per Kg, walaupun menurunkannya tidak mudah hanya dalam waktu 2-3 bulan saja,” katanya.

Mendag Enggar juga bertemu dan berdiskusi dengan beberapa perwakilan asosiasi seperti ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia), AIDDI (Asosiasi Industri dan Distributor Daging Indonesia), APDI (Asosiasi Pedagang Daging Indonesia),  APPHI (Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia), GAPUSPINDO (Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia), NAMPA (National Meat Processor Association), serta beberapa perwakilan industri pengolah daging sapi. “Pemerintah merumuskan kebijakan yang tepat dan efektif dalam menjaga kecukupan pasokan daging sapi di masyarakat dengan harga yang terjangkau,” ujarnya.

Saat berdialog dengan Menteri Enggar, sejumlah pedagang mengeluhkan tingginya harga daging sapi segar. ”Harga daging lokal di sini masih Rp120 ribu per kg pak. Tapi harga daging impor Rp 80 ribu Tolong Pak diturunkan harga daging lokalnya,” keluh salah seorang pedagang daging sapi bernama Riki Yakub.
Yakub mengaku enggan menjual daging sapi impor di lapak miliknya. ”Sapi impor disini kurang diminati, pembeli pada gak mau,” timpalnya.

Mesti terbilang lebih murah, pembeli di pasar modern lanjut Riki, lebih senang dengan sapi lokal segar bukan daging beku.
Ketika ditanyai Mendag, Riki menjawab, daging sapi lokal yang dijualnya berkisar antara Rp 87 ribu sampai Rp 140 ribu. “Macam-macam Pak, kalau paha Rp 140 ribu perkilo, kalau yang masih banyak gajihnya antara Rp 87 ribu sampai Rp 90 ribu perkilo,” tandas Riki yang sudah 8 tahun berjualan di tempat itu. (Raja Tama)