Menkeu: APBN 2018 Didesain Menjaga Optimisme Pertumbuhan Ekonomi

1561
Menkeu, Sri Mulyani Indrawati

JAKARTA-Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengatakan APBN 2018 ini didesain untuk menjaga momentum ekonomi agar terus bisa menciptakan optimisme dalam penciptaan kesempatan kerja, menjaga daya beli rakyat serta memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Hal ini terlihat dari postur APBN 2018 yang menunjukkan komitmen membuat anggaran sehat semakin terlihat sangat nyata.

“Untuk tahun 2018 ini, kalalu kita lihat posturnya, menunjukkan komitmen untuk membuat APBN sehat itu terlihat sangat nyata,” ujar Menkeu disela-sela konferensi pers tentang RAPBN 2018 di Kementerian Keuangan di Jakarta, Senin (21/8).

“Tapi kita tidak melakukannya secara drastis, karena mengelola ekonomi itu harus dilakukan secara smooth, secara mulus, jangan menjadi faktor yang menimbulkan gejolak, tapi dia menjadi faktor yang menciptakan stabilitas,” terangnya.

Dia menjelaskan, fungsi dari APBN adalah alokasi, distribusi, stabilisasi. “Jadi kita memang bertujuan untuk membuat APBN itu memiliki fungsi itu secara penuh,” tuturnya.

Menurutnya, saat ekonominya mengalami pesisime, pemerintah menciptakan sedikit optimisme. Demikian pula, saat ekonominya mengalami booming, pemerintah bisa mengurangi supaya dia tidak mengalami overheating.

“Kalau ekonominya mengalami situasi disparitas atau kesenjangan yang tinggi, kita harus memfokuskan kepada masalah kesenjangan itu. Kalau kita perlu menyelesaikan masalah kemiskinan,maka APBN harus mampu untuk fokus menyelesaikan masalah kemiskinan,” imbuhnya.

“Demikian juga, jika kita ingin menciptakan kesempatan kerja maka APBN bisa mendukung keinginan untuk menciptakan kesempatan kerja,” ulasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan belanja negara merupakan faktor penting dalam APBN. Belanja negara tahun 2018 dialokasikan sebesar Rp 2.204,4 Triliun termasuk belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1443,3 Triliun dan belanja Kementerian /Lembaga Rp 814,1 Triliun.

Belanja tersebut ujarnya mengalami kenaikan cukup besar dari tahun lalu yang berada di kisaran Rp 760 Triliun karena mencakup persiapan pemilu tahun 2019.

Ditegaskannya, persoalan saat ini bukan uangnya tetapi pada kemampuan untuk membelanjakan secara baik. Isunya adalah kapasitas dan kompetensi membelanjakan uang.

Hal ini menjadi sangat penting karena persoalan dengan belanja yang besar, masyarakat mengharapkan ada hasil yang nyata dan baik.

“Saya katakan, RAPBN 2018 ini didesain untuk menjaga momentum ekonomi kita agar terus bisa menciptakan optimisme,” jelasnya.

Untuk itu, penerimaan negara akan terus ditingkatkan. Sementara, program akan semakin terfokus didalam menciptakan keadaan sosial dengan fokus pada kemiskinan, pemerataan dan pelayanan kepada masyarakat.

“Defisit kita jaga makin menurun namun dengan tidak menciptakan kekagetan di dalam ekonomi sehingga ekonomi bisa berjalan secara baik dan tentu dengan APBN yang sehat kita tentu berharap ekonomi akan makin kuat,” pungkasnya.