Menkeu: Indonesia Tidak Comparable Dibandingkan Haiti

8
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati hadir dan berbicara pada Rapat Kerja (Raker) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) 2019 di Aula Dhanapala, pada Selasa (22/01)

JAKARTA-Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengatakan capaian Indonesia Indonesia pada 2018 dibandingkan emerging country lainnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tertinggi ketiga setelah RRT dan India, sementara banyak negara yang growthnya terkontraksi. Bahkan, ekonomi Indonesia tidak comparable kalau dibandingkan Haiti.

“Kalau kita bandingkan dengan emerging country yang relatively big, yang sekelompok misalnya negara-negara G20. Size ekonomi kita besar dan kita hampir open ekonomi, pertumbuhan kita tertinggi ketiga setelah RRT dan India. Ini bagus, karena banyak negara yang growthnya terkontraksi. Indonesia tidak comparable kalau dibandingkan Haiti,” kata Menkeu.

Senada dengan Menkeu, Chatib Basri juga berpendapat Indonesia sudah melalui guncangan ekonomi dengan baik di 2018.

“2018 itu berat, tekanan berat. Itu tekanan bunga the Fed dan perang dagang. Kemudian ketidakpastian yang muncul terhadap kebijakan Presiden Trump. 2018 itu berat sekali.  Seandainya itu fiskalnya agak terlambat, dilakukan langkah-langkah yang tepat, Rupiah kita bisa lebih di atas 15 ribu. Growth kita 2018 bertahan di 5,1-5,2 ini stabil, saya appreciate apa yang dilakukan sama pemerintah dan Bank Dunia. Silakan cek data-datanya,” jelasnya.

Kemudian Chatib Basri juga menjelaskan potensi dari kelas menengah dalam menggerakkan ekonomi Indonesia.

“Yang mendorong perekonomian itu adalah permintaan. Kelas menengah itu sebagai profesional complainer, Tidak ada yang lebih hebat dari kelas menengah kalau complain. Ini sebetulnya bagus, untuk membuat ibu Sri Mulyani kerja lebih keras. Kelas menengah akan menjadi agent of change karena dia akan memaksa pemerintah untuk bekerja lebih baik lagi,” paparnya.

Ia juga menjelaskan potensi dari industri kreatif yang sejalan dengan gaya hidup para kelas menengah.

“Dengan berkembangnya kelas menengah industri kreatif itu jadi luar biasa. Dari yang namanya niche ke wants. Jadi, bukan pakaian yang dipakai, tapi harus indah dan menarik. Masa depan industri kreatif ini akan menarik,” tegasnya optimis.

Menurut Menkeu, kelas menengah akan memberikan dampak terhadap ekonomi Indonesia, terutama dari sisi permintaan dan gaya hidup.

“Kelas Menengah 45 juta tahun 2010. Kalau studi kelas menengah sendiri, pada dasarnya berbagai lembaga yang melakukan studi, memunculkan apa yang disebut kelas masyarakat di atas kemiskinan, sebagian masih rapuh dan sebagian sudah establish. Tahun ini mungkin sudah naik mendekati 60 juta dan 2020 diperkirakan 80 juta. Seluruh Malaysia tidak akan sebesar itu, demikian seluruh ASEAN. Jadi, ini akan menjadi penggerak ekonomi Indonesia,” tegas Menkeu.