Menkeu: Pembiayaan Bencana Hanya Mengandalkan APBN

8
Menkeu, Sri Mulyani Indrawati

BALI-Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memaparkan rencana strategi pembiayaan bencana kepada para delegasi Annual Meeting IMF-Bank Dunia (AM2018Bali).

Dalam penjelasannya, Menkeu mengatakan Indonesia hanya mengandalkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini ketika terjadi bencana.

“Jika terjadi bencana, sebagian besar kerugian yang dialami oleh masyarakat akan ditanggung oleh pemerintah dari APBN dan realokasi anggaran. Sedangkan pemerintah daerah hanya mengandalkan dari dana transfer ke daerah,” jelas Menkeu saat berbicara pada acara High Level Dialogue on Disaster Risk Financing and Insurance (DRFI) di Mangupura Room, BICC, Rabu (10/10).

Selain Menkeu, pembicara lainnya yakni Presiden World Bank Group Jim Yong Kim, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Secretary of Budget and Management Philipines, Benjamin Diokno, dan Alternate Vice Finance Minister for International Affairs, MoF Japan, Yota Ono.

Menkeu mengatakan pembiayaan lebih terfokus pada respon terhadap dampak bencana, pemulihan dan pembangunan kembali, tetapi tidak kepada strategi transfer risiko. Konsep transfer risiko telah dicoba untuk petani dan nelayan.

Namun itu hanya pada level keamanan ketersediaan pasokan makanan dan asuransi jiwa.

Menkeu terbaik dunia ini memaparkan beberapa rencana strategi yang akan diterapkan oleh Indonesia. Pemerintah akan menentukan risiko mana yang pembiayaannya ditanggung sendiri, pembiayaan risiko yang di transfer dan bagaimana memilih instrumen yang sesuai dan efisien.

“Objektivitas kebijakan Pemerintah saat ini adalah bagaimana dapat melindungi masyarakat tetapi juga keuangan negara dengan cara yang berkelanjutan dan se-efisien mungkin,” ujarnya

Menkeu kembali menyebutkan, pertemuan ini akan digunakannya untuk terus belajar dari berbagai negara yang telah mempunyai skema asuransi bencana. Seperti yang dilakukan oleh Kolombia, Chili, Peru, dan Meksiko yang bersama-sama menyusun desain Manajemen Risiko Bencana asuransi untuk 2018-2020, ataupun Filipina dalam menangani bencana alam angin topan.

“Saya ingin belajar dari rekan-rekan saya semua yang hadir disini karena di pertemuan ini telah hadir berbagai institusi yang beroperasi secara global dan mengetahui best practice yang terjadi di beberapa negara. Kami ingin belajar dengan efisien dan efektif,” tutupnya.