Menperin Tawarkan India Kerja Sama Produksi Bahan Baku Obat

12
Menperin Saleh Husin menerima Duta Besar India untuk Indonesia Nengcha Lhouvum Mukhopadhaya disaksikan Presiden Confederation of Indian Industry (CII) Naushad Forbes

JAKARTA-Pemerintah Indonesia mengajak para pengusaha India untuk terus meningkatkan investasi di Indonesia khususnya sektor industri. Dari banyak peluang yang bisa digarap bersama, beberapa di antaranya ialah kerja sama produksi bahan baku obat, mesin industri dan pengembangan kawasan industri.

Menteri Perindustrian (Menperin), Saleh Husin mengatakan kerja sama industri dan investasi itu sejalan dengan perekonomian Indonesia yang diproyeksikan terus tumbuh. Terlebih lagi, kedua negara memiliki kesamaan yaitu sebagai negara yang agresif menumbuhkan industri serta kekuatan ekonominya, merupakan pasar dengan jumlah penduduk yang besar, sumber daya alam melimpah dan pertumbuhan kelas menengah yang tinggi. ”Kita memiliki semangat yang sama dengan India untuk memiliki industri yang kuat dan berdaya saing. Industri yang dapat kita kembangkan bersama antara lain produksi bahan baku obat untuk farmasi, permesinan untuk industri pengolahan hasil pertanian dan perkebunan serta mengundang perusahaan India membangun pabrik-pabriknya di kawasan industri di Indonesia,” kata Menperin Saleh Husin usai menggelar pertemuan dengan Presiden Confederation of Indian Industry (CII) Naushad Forbes beserta para pelaku usaha dan industri yang tergabung dalam delegasi CII di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (18/7).

Produksi bahan baku obat diperhitungkan sangat dibutuhkan karena selama ini lebih dari 90 persen dipasok dari impor. Sebagian besar berasal dari China dan diikuti dari India.

Dengan peningkatan kerja sama investasi di industri bahan baku obat, Indonesia berharap dapat mengurangi ketergantungan dari impor dan meningkatkan peluang untuk mengembangkan industri farmasi nasional.

India merupakan negara mitra dagang terbesar ke-8 bagi Indonesia. Transaksi perdagangan antara kedua negara mencapai USD 14,6 miliar atau Rp 197,1 triliun dengan asumsi nilai tukar dollar AS terhadap rupiah senilai Rp 13.500. Transaksi sebesar itu setara 4,9 persen dari seluruh total perdagangan Indonesia pada tahun 2015.

Sedangkan investasi di sektor industri, pada tahun 2015, India telah melakukan investasi di Indonesia sebanyak 43 proyek dengan nilai investasi sebesar USD 15,5 juta atau meningkat dibandingkan dengan tahun 2014 yang hanya sebanyak 19 proyek investasi senilai USD 12,89 juta. Investasi dilakukan terutama pada sektor industri makanan, industri tekstil serta industri alat angkut dan transportasi lainnya.

Dalam pertemuan tersebut, Menperin juga menawarkan kepada para pengusaha India untuk berinvestasi di 10 sektor industri prioritas. Yaitu industri pangan; industri farmasi, kosmetik dan alat kesehatan; industri tekstil, kulit, alas kaki dan aneka; industri alat transportasi; industri elektronika dan telematika/ICT.

Selanjutnya, industri pembangkit energi; industri barang modal, komponen, dan bahan penolong; industri hulu agro; industri logam dasar dan bahan galian bukan logam; serta industri kimia dasar berbasis migas dan batubara.

Presiden CII Naushad Forbes juga menegaskan India menginginkan bertambahnya perusahaan mereka berinvestasi di Indonesia dan sebaliknya mengundang pelaku industri asal Indonesia memanfaatkan peluang bisnis di negara tersebut. “CII akan membantu proses investasi dengan berbagi informasi tentang prospek usaha serta mempertemukan dengan perusahaan manufaktur India. Hal yang sama juga kami harapkan secara timbal balik, apalagi sejarah kerja sama kedua bangsa telah berlangsung sangat lama,” katanya.

Naushad Forbes yang juga merupakan Co-Chairman of Forbes Marshall, perusahaan produksi dan pengembang teknologi pembangkit energi (steam engineering & control instrumentation), menyambut baik tawaran kerja sama di bidang permesinan, pembangkit listrik maupun farmasi.

Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Harjanto mengatakan kedua negara dapat bermitra saling memperkuat industri dengan memanfaatkan keunggulan masing-masing negara. “Kita dapat memanfaatkan teknologi dari India seperti pembangkit listrik dan industri tekstil. Sebaliknya, kita dapat berperan lebih banyak dalam memasok consumer goods, baik barang-barang konsumsi produk industri pengolahan pangan, perawatan tubuh dan lain-lain. Hal ini memanfaatkan populasi India yang mencapai 1,2 miliar jiwa,” ulasnya.