Menteri Ekonomi dan Energi Jerman Beri Kuliah Umum di Atma Jaya

22
Dalam menghadapi tantangan ekonomi, Peter Altmaier, Menteri Ekonomi dan Energi Jerman, menjelaskan betapa pentingnya kerja sama yang dibangun oleh Indonesia-Jerman pada Sabtu(3/11) di Unika Atma Jaya. Salah satu kerja sama Indonesia-Jerman adalah pengembangan bioenergi dalam menghadapi tantangan lingkungan alam. Ia juga menjelaskan betapa pentingnya penerapan ekonomi pasar sosial yang dijalankan oleh pelaku pasar bukan pemerintah.

JAKARTA-Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya mendapatkan kunjungan Menteri Ekonomi dan Energi Jerman, Peter Altmaier yang memberikan kuliah umum dengan topik “Germany’s social market economy in the age of globalization”. Unika Atma Jaya adalah satu-satunya universitas di Jakarta yang dikunjungi dalam rangkaian kerja Peter ke Asia yang diagendakan untuk menghadiri Konferensi Asia Pasifik Bisnis Jerman ke-16 yang akan dihadiri sekitar 1000 peserta dari bidang ekonomi, politik dan kelompok-kelompok asosiasi.

Sebelum ke Unika Atma Jaya Jakarta, Peter melakukan serangkaian kunjungan bertemu dengan Presiden Joko Widodo, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong dan sejumlah kalangan industri.

“Kita semua pasti tahu bahwa Jerman adalah salah satu negara dengan kekuatan ekonomi yang besar bukan hanya di Eropa tapi juga di dunia, pertama karena peran teknologi yang mendukung produktivitas industri dan stabilitas ekonomi. Kedua karena peran masyarakat, sehingga kita bisa melihat keseimbangan antara industrialisasi, adopsi teknologi tinggi dan pembangunan sosial,” tutur Rektor Unika Atma Jaya Dr. A. Prasetyantoko dalam sambutannya.

Revolusi teknologi di era industri 4.0, lanjutnya, telah membuktikan sebagai game changer bagi masyarakat. Telah membawa perubahan substansial pada sisi sosial dan teknikal pada transformasi dan disrupsi masyarakat.

Revolusi teknologi juga membuka kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia, secara fisik, sosial dan kebudayaan. “Bagi kami di Indonesia, teknologi tidak dapat dielakan sebagai faktor yang mewarnai perubahan kebijakan dan kehidupan sosial.”

Civitas akademisi Atma Jaya melihat situasi tersebut juga membawa tantangan baru bagi institusi akademis untuk terus mengeksplorasi area riset baru dalam rangka memberikan kontribusi bagi masa depan.

“Bagi Atma Jaya, kesempatan ini merupakan kehormatan bagi kami untuk dapat belajar langsung dari pengalaman Jerman yang telah berhasil melakukan perubahan secara teknologi, sosial dan globalisasi,” paparnya.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Ekonomi dan Energi Jerman, Peter Altmaier menegaskan akademisi adalah harapan bagi Indonesia, yang mengubah dunia, mengubah struktur baru dalam masyarakat, mereformasinya menjadi lebih moderen, menciptakan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, perdamaian dan keberlanjutan untuk masa depan bagi jutaan manusia.

Kerjasama antara Pemeirintah Jerman dan Indonesia merupakan kesempatan untuk bersama-sama menjawab tantangan ke depan seiring pertumbuhan jumlah penduduk dunia dan harapan pemerataan standar kehidupan yang layak.

“Tantangan kedua adalah tantangan lingkungan alam. Bagaimana pertumbuhan ekonomi tetap berjalan sekaligus memperhatikan keselamatan lingkungan. Itu sebabnya Jerman melakukan transisi energi menggantikan kebutuhan energi dari bahan bakar minyak ke sumber energi terbarukan,” urainya.

Pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH bekerjasama dengan pemerintah Indonesia pengembangan energi diprioritaskan dengan memaksimalkan penggunaan Energi Baru Terbarukan atau EBT.

Seperti diketahui Indonesia telah menargetkan bahwa pada 2025 kontribusi EBT akan mencapai 23% dari total bauran energi nasional melalui pengembangan bioenergi untuk listrik yang ditargetkan mencapai 5.500 MW sedangkan untuk tenaga surya sebesar 6.500 MW pada tahun 2025.

Sementara itu, Jerman juga mendorong Indonesia untuk menerapkan ekonomi pasar sosial yang artinya pasar tidak diatur oleh pemerintah tetapi oleh para pelaku pasar. Ekonomi pasar membutuhkan kondisi kebijakan yang stabil.

“Artinya para investor butuh jaminan bahwa investasi mereka akan kembali dan menguntungkan. Konsep ekonomi pasar sosial lebih sukses karena bukan hanya pemilik bisnis yang menikmati hasilnya tetapi juga para pegawainya,” tuturnya.

Dalam sistem ekonomi pasar sosial, pegawai tidak hanya menikmati gaji yang lebih baik tapi juga menikmati jaminan sosial, sistem pendidikan, jaminan kesehatan, jaminan pensiun yang lebih baik dan jaminan terhadap kondisi lingkungan yang lebih baik.

Konsep ekonomi pasar sosial bukanlah sekedar masalah prinsip ideologi tapi merupakan konsep yang menghargai keberadaan umat manusia sekaligus memberikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam praktik demokrasi.

“Dalam pengalaman kami, dalam waktu 20 tahun kami mampu meningkatkan penggunaan sumber listrik dari energi terbarukan dari tidak ada menjadi 36% dan kami akan terus meningkatnya menjadi 80-90% hingga tahun 2050,” tuturnya.

Public lecture di Unika Atma Jaya ini merupakan bagian dari rangkaian kerja sama UAJ dengan pemerintah Jerman yang diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman dengan kedubes Jerman awal Agustus lalu mengenai fasilitasi program lintas budaya, pendidikan dan sosial.

Diawali dengan penyelenggaraan pameran keliling “Transisi Energi Jerman (Energiewiende)” sejak 29 Oktober hingga 10 November 2018 di Jakarta dan Surabaya, Unika Atma Jaya mendapat kehormatan sebagai tuan rumah pameran yang menampilkan political will pemerintah Jerman sejak tahun 1970 terhadap penghematan konsumsi energi tradisional.

Dalam pameran disampaikan mengenai upaya apa saja yang telah dilakukan, kebijakan yang telah diambil, teknologi hijau yang telah dikembangkan dan menjadi semakin mudah dibeli dan bagaimana pemerintah Jerman melalui GIZ bekerjasama dengan Kementrian ESDM membangun sumber listrik dengan energi terbarukan di lebih 600 desa di Indonesia.

Pameran yang mengambil tempat di universitas ini juga menyatakan mengenai pentingnya peran universitas sebagai pendorong perubahan kebijakan penggunaan energi terbarukan di Indonesia dengan memaksimalkan potensi selain batu bara dan minyak Bumi seperti panel surya, angin, panas bumi bahkan sampah.