Menyambut Era Suku Bunga Rendah

41
Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income MAMI dan Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist MAMI

JAKARTA-PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (“MAMI”) menyampaikan ulasan dan proyeksi kondisi pasar global dan Indonesia.

Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income MAMI dan Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist MAMI menjelaskan, global yield hunt akan menjadi tema investasi yang dominan dan menguntungkan kawasan negara berkembang, didukung oleh inflow dari investor yang mencari imbal hasil atraktif.

Dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, Indonesia menawarkan real yield pasar obligasi yang cukup tinggi.

Katarina menyampaikan empat isu global. Pertama, inflasi yang rendah membuat bank sentral menjaga tingkat suku bunga di level rendah. Banyaknya ketidakpastian di pasar global terkait konflik dagang, geopolitik, dan kebijakan suku bunga menekan sentimen bisnis dan tingkat inflasi global.

“Inflasi yang rendah dan terus berada di bawah target membuat The Fed mengubah postur kebijakannya menjadi lebih akomodatif. Kondisi ini akan menciptakan iklim lower rate for longer di mana bank sentral akan menjaga tingkat suku bunga di level rendah secara berkepanjangan untuk mencapai target inflasinya,” ulasnya.

Kedua, tren pelonggaran moneter global akan memberi dukungan bagi perekonomian global dan Indonesia. Setelah The Fed melakukan pemotongan suku bunga, mayoritas bank sentral dunia akan mulai atau melanjutkan pelonggaran moneter.

Potensi pelemahan mata uang terhadap dolar AS, jika ada akan lebih terkendali. Global yield huntakan menjadi tema investasi yang dominan, dan menguntungkan kawasan negara berkembang, didukung oleh inflow dari investor yang mencari imbal hasil atraktif.

Pelonggaran moneter global akan memberi dukungan bagi perekonomian global dan Indonesia di paruh kedua 2019, terutama jika ada perbaikan tensi perdagangan Amerika Serikat-China.

Ketiga, penurunan Fed Rate akan menopang pasar saham global, terutama negara berkembang.

Secara historis, dalam 245 hari setelah penurunan Fed rate di tahun 1989, 1995, 1998, 2001, dan 2007, pasar saham Asia menunjukkan kinerja yang lebih tinggi secara rata-rata dibandingkan pasar Amerika Serikat (S&P500), yaitu 19,9% dibanding 6,7%.

Keempat, stabilisasi ekonomi China akan menopang Asia. China masih memiliki ruang untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter dan pemangkasan pajak yang ditargetkan untuk beberapa sektor ekonomi.

Ekonomi China yang lebih stabil berpotensi mendukung aktivitas perdagangan global, terlebih jika terjadi de-eskalasi tensi dagang yang tentunya berpotensi memberikan dukungan positif tambahan bagi sentimen bisnis dan pertumbuhan ekonomi global.