Mgr Agustinus Agus Pr: Uskup Agung Pontianak Yang Luar Biasa

100
Uskup Agung Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus Pr, berfoto bersama dengan para pastor dari Kalimantan Barat dalam perayaan 40 tahun pesta imamatnya, Senin (19/6)

Tepat empat puluh tahun yang lalu, Diakon Agustinus Agus, Pr. menerima tahbisan imamat dari tangan Mgr. Hieronymus Bumbun, OFM. Cap. menjadi Pastor Agustinus Agus, Pr.

Sebagai imam pribumi yang pertama ditahbiskan di Sekadau, bak buah sulung yang ranum, Pastor Agustinus Agus, Pr. kemudian dikaryakan di Sekadau sebagai Pastor Paroki di Senangak.

Waktu bergulir. Tugas mesti diemban, menggembalakan umat juga berarti mengenal umat. Relasi dengan sesama imam pun dari kacamata iman menjadi hal yang meneguhkan panggilan meski sempat meredupkannya. Tantangan demi tantangan datang dan dihadapi, dan bahkan harus memadamkan kemelut yang terjadi di Sekadau.

Hidup menawarkan banyak pilihan. Namun pilihan sekolah ke Maryknoll School of Theology, University of the State of New York, USA menjadi pilihan yang semakin mematangkan sisi akademis sekaligus spiritual Sang Imam. Tentu bukan hal yang mudah dan mulus begitu saja untuk menyelesaikan studynya di Negeri Paman Sam itu.

Meski demikian, dukungan sabahat dan keluarganya melalui surat-suratnya menjadi kekuatan yang meneguhkan panggilannya. Pengalamannya di luar negeri menggelitik pikirannya untuk membandingkan dengan realitas di tempat asalnya, yaitu Kalimantan Barat, terkhusus di Sanggau tempat asalnya. Semangat menyeruak dan menggebu ingin mengajak bangkit umat yang selama ini masih tertidur, masih belum sadar, tersingkirkan, bahkan ketinggalan zaman dan terpuruk. Meyakinkan bahwa “kita” juga pasti bisa.

Selangkah kemudian, keteguhan dan kesetiaannya membawa Sang Imam pada Panggilan Suci Vatikansebagai Admistrator Apostolik Keuskupan Sintang pada tanggal 21 Januari 1996. Namun, bukan hal yang sudah mapan dan stabil yang dihadapi di Sintang ketika itu. Kondisi gereja dan umat yang terpecah mengharuskan Mgr. Agus menemukan cara-cara untuk mendekonstruksi dan menata kembali gereja dan umat.

Tanggal 9 November 1999 merupakan hari bersejarah kembali yaitu Vatikan menyampaikan panggilan suci sebagai Uskup Sintang yang kemudian ditahbiskan dari tangan Yulius Kardinal Darmaatmaja, SJ pada tanggal 6 Februari 2000, saat usianya telah menjangkau 50 tahun.

Keuskupan Sintang dibenahi, mulai dari struktur keuskupan, keuangan, hingga hal-hal yang berkaitan dengan umat.

Setahap demi setahap kekuatannya sebagai gembala bersama umat di Keuskupan Sintang ternyatakan dalam banyak wujud pembangunan. Gereja-gereja dibangun hingga ke stasi-stasi, Seminari, Tempat Wisata Rohani Bukit Kelam, Rumah Betang Baligundi, dan sebagainya. Sebagai uskup yang rajin turne, kebersamaan dengan umat memang terasa begitu dekat.

Tidak salah jika dikatakan sebagai uskup yang mengumat. Semua umat mengenal dengan baik. Hobi berpantun, bekondan, main musik, mancing, menembak, olah raga, dan masak menjadikan Mgr. Agus sebagai pribadi yang mudah bergembira di mana pun.

Waktu 18 tahun lebih bukanlah waktu yang singkat berkarya di Keuskupan Sintang. Tahta Suci kembali memanggil Mgr. Agus untuk melanjutkan karya kegembalaannya di Keuskupan Agung Pontianak pada tanggal 3 Juni 2014. Pengukuhan sebagai Uskup Agung dilaksanakan pada tanggal 28 Agustus 2014 di Gereja St. Agustinus, Sungai Raya.

Misa pengukuhan itu dipimpin oleh Mgr. Hieronymus Bumbun, OFM Cap. sebagai Uskup Agung Emeritus Pontianak dengan 16 uskup dari seluruh Indonesia sebagai konselebrannya. Dalam misa itu Nuntius membacakan bulla yaitu surat Paus Fransiskus yang menunjuk saya sebagai Uskup Agung Pontianak. Lalu Nuntius juga menyerahkan tongkat gembala.

Menjadi uskup agung tentu berbeda dengan menjadi uskup. Tantangan selalu datang ibarat gelombang yang selalu meraih pantai. Untuk itu, dukungan dan doa umat sangat diharapkan. Terlebih lagi, kondisi umat di Keuskupan Agung Pontianak ini pun begitu beragam dengan beragam persoalan pula.

Untuk mengenang perjalanan imamat selama 40 tahun itu, dan juga ditambah dengan memahami latar belakang budaya maupun pendidikan Mgr. Agustinus Agus maka pada kesempatan Perayaan Pancawindu Tahbisan Imam pada tanggal 19 Juni 2017 di Hotel Star itu diluncurkan buku berjudul “Anak Kampung Jadi Uskup Agung” yang ditulis oleh Chatarina Pancer Istiyani.

Buku setebal 348 tersebut telah dibaca oleh Daniel Dakhidae dan diedit oleh R. Masri Sareb Putra, diterbitkan oleh Penerbit OBOR, Jakarta. Buku ini menawarkan inspirasi dan motivasi bagi siapa saja, terutama bagi kaum muda dan yang menghadapi masalah-masalah berat dalam perjuangan hidup. Hal ini selaras dengan kutipan Mazmur 28:8 “Tuhan adalah Kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya.”