Minimnya Sentimen Positif di Pasar Uang

172

JAKARTA-Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (28/5) diperkirakan kembali melemah karena tidak adanya perubahan signifikan dari indikator ekonomi Indonesia, membuat mata uang rupiah agak tertekan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang menguat secara global. “Rupiah diperdagangkan dikisaran 9.760 -7.820 per dollar AS,” ujar analis valas PT Harvest International Futures, Tonny Mariano di Jakarta, Senin (27/5).

Menurut dia, minimnya sentimen positif di pasar global masih akan menjadi faktor penghambat apresiasi rupiah. Rupiah semakin tertekan seiring dengan ekspetasi bahwa The Fed berpeluang mengurangi program pembelian obligasi dalam pertemuan kebijakan selanjutnya.

Selain itu kata dia, pelaku pasar juga hawatiran terhadap rencana stimulus Bank of Japan (BoJ) yang akan mendorong volatilitas di pasar obligasi.  Pelaku pasar melihat tidak adanya perubahan terhadap rencana stimulus tersebut, sementara pelaku pasar menginginkan BoJ lebih agresif. “Hal ini membatasi penguatan rupiah,” kata dia.

Dia menambahkan, menguatnya posisi dollar  AS terhadap mata uang dunia berdampak pada semakin melemahnya nilai tukar rupiah di pasar domestik. Apalagi permintaan dollar AS oleh korporat akan cenderung meningkat di akhir bulan sehingga membuat nilai tukarnya semakin meroket. “Sepertinya Bank Indonesia (BI) perlu bersiap-siap  melakukan intervensi agar rupiah tidak semakin terpuruk,”  jelas dia.

Meski demikian, lanjut dia, adanya rencana pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi diperkirakan dapat menjadi sentimen positif bagi nilai tukar domestik. “Kenaikan harga BBM akan membuat neraca Indonesia lebih baik dan menurunkan defisit pada sektor migas-nya,” pungkas dia