MPR Dinilai Abaikan Eksistensi Bahasa Indonesia

25

Jakarta—MPR dinilai mengabaikan keberadaan bahasa Indonesia. Padahal bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Karena itu bangsa ini tidak boleh melupakan bahasa Indonesia, yang secara tegas termaktub dalam sumpah pemuda Indonesia, yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober. “Dari 4 pilar bangsa tersebut ada yang diabaikan oleh oleh MPR RI yang bertugas menyosialisasikan 4 pilar bangsa itu, yaitu bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu tidak masuk ke dalam 4 pilar. Seharusnya, 4 pilar itu ditambah satu, yaitu bahasa Indoensia sebagai bahasa pemersatu bangsa. Sehingga menjadi 5 pilar bangsa,” kata sejarawan Universitas Indonesia, RR Rizal dalam dialektika demokrasi bertajuk ‘Implementasi Sumpah Pemuda di Era Reformasi” bersama Aziz Syamsuddin (anggota Fraksi Golkar MPR RI/Mantan Ketua KNPI, dan Indra (anggota FPKS MPR RI) di Gedung MPR/DPR RI Jakarta, Senin (29/10).
Bahasa Indonesia tersebut lanjut Rizal, itu sangat penting karena sebelum Indonesia merdeka, bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa ibu pertiwi sekaligus menjadi bahasa pemersatu bangsa ini. Karena itu erat kaitannya antara nasionalisme dengan bahasa Indonesia. Tapi, pasca reformasi ini yang terjadi malah tumbuh-suburnya kedaerahan dengan bahasa daerah yang khas, yang justru mengancam desintegrasi bangsa.
Dengan demikian unsur terpenting dalam memperingati sumpah pemuda sekarang ini menurut Rizal adalah memasukkan bahasa Indoensia sebagai bahasa ibu ke dalam 4 pilar bangsa, di tengah berkembangnya organisasi kemasyarakatan (ormas) yang khas bersifat kedaerahan, yang justru jauh dari nilai-nilai sumpah pemuda itu sendiri.
Yang pasti kata Aziz Syamsuddin, di era reformasi ini bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai kepemudaan itu ke dalam kehidupan sehari-hari yang langsung bersentuhan dengan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. “Selain itu bagaimana kita mampu berperang melawan narkoba, korupsi, terorisme dan kejahatan kemanusiaan yang merusak generasi bangsa,” ujarnya.
Karena itu seluruh kekuatan bangsa ini menurut Aziz, harus bersatu dan menjadi pemersatu mengisi kemerdekaan, mewujudkan kesejahteraan dan mempertahankan NKRI. “Kalau bicara kemakmuran bagaimana kekayaan sumber daya alam bangsa ini; baik Migas, pertambangan, pertanian, kekayaan hutan, dan sebagainya itu dikuasai negara dan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat,” ungkapnya.
Menyinggung soal capres muda kata Aziz, kalau ada yang berkualiyas akan kita dukung. Selain itu perlu dukungan media, karena media merupakan ujung tombak perjuangan bangsa yang tidak bisa dilupakan. “Pers ini sangat menentukan,” tambah Aziz lagi.
Sementara itu Indra berharap munculnya tokoh muda sebagai capres alternatif, meski sudah banyak tokoh muda yang tertangkap KPK dan masuk penjara. Mengapa? Karena dari kaum muda inilah katanya,”Kita harapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai kepemudaan dalam berbangsa dan bernegara. Seperti halnya di negara-negara maju,” tuturnya. **