Muhaimin Berpeluang Dampingi Jokowi 2019

38
kompas.com

JAKARTA-Paska penetapan Ketua Umum Golkar Setya Novanto menjadi tersangka dalam kasus e-KTP, diprediksi peta politik Pilpres 2019 ikut berubah. Bahkan tokoh parpol yang berpeluang mendampingi Jokowi pada pemilu mendatang Ketua umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar.

Apalagi PKB berada dalam parpol koalisi yang mendukung Jokowi. Hanya saja PKB harus kerja keras untuk mendulang suara pemilu khususnya di luar Jawa. “Ya, hitung politik bisa jadi Muhaimin. Karena PKB masuk koalisi pendukung pemerintah. Masalahnya, sanggupkah PKB kerja keras untuk meningkatkan elektabilitas Cak Imin sebagai Cawapresnya Jokowi di 2019 itu,” kata Direktur eksekutif Lima, Ray Rangkuti pada wartawan di Jakarta, Selasa (18/7/2019).

Menurut Ray, ketika UU Pemilu nantinya diputuskan dengan ambang batas atau presidential threshold (PT) pencapresan itu 10 % hingga 15 %, setidaknya akan ada 5 pasangan Capres yang akan bertarung di pemilu 2019 itu. “Tapi, ambang batas itu tidak menjadi alasan utama seseorang bisa nyapres atau tidak,” tambahnya.

Salah satu alasannya, kata Ray, karena semua akan kembali pada elaktabilitas.
PKB harus kerja keras untuk mendongkrak elektabilitasnya Cak Imin tersebut. “Memang, bisa disebut mewakili basis massa NU, juga harus mampu meyakinkan para kiai NU khususnya para kiai sepuh yang sangat disegani di NU. Selain itu, penyebaran basis massa di luar NU khususnya di luar Jawa,” ujar alumni UIN Syahid Jakarta ini.

Sebelumnya parpol koalisi pendukung pemerintah (PDIP, Golkar, PKB, PPP, NasDem, dan Hanura) siap mengusung Jokowi kembali sebagai Capres di pemilu 2019. Golkar salah satu parpol yang aktif dan terus mendorong Jokowi sebagai capres 2019 tersebut.

Namun, setelah Setya Novanto yang juga Ketua DPR RI dijadikan tersangka kasus e-KTP oleh KPK pada Senin (17/7/2017) malam, maka kader di internal parpol koalisi yang berpeluang antara lain Abdul Muhaimin Iskandar. Bagaimana langkah Golkar selanjutnya? “Kita tunggu saja,” pungkas Ray Rangkuti.