Muhammadiyah Usul Filmkan Tokoh Fatmawati Soekarno

63

JAKARTA- Sekretaris Umum PP Muhamadiyah, Abdul Mu’ti mengusulkan pembuatan film Fatmawati Soekarno. Alasannya agar masyarakat tahu bagaimana peran Fatmawati sebagai istri dalam mendukung suaminya berjuang untuk kemerdekaan. “Fatmawati itu nama aslinya Siti Fatimah. Makanya Bung Karno itu pro kepada emansipasi,” katanya dalam diskusi bertema ‘Ngaji Bareng Bung Karno’ di Megawati Institute, Jakarta, Senin (12/6/2017).

Mu’ti mengungkapkan, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno merupakan seseorang yang sangat anti pada kejumudan (kemandekan) dalam berfikir. Pemikiran Soekarno itu sangat egaliter. Hal itu bahkan terjadi dalam pemahaman nya soal agama islam. “Bagi Soekarno Islam sebagai agama telah selesai tapi pemahaman kepada Islam belum selesai. Dan yang dimaksud Soekarno adalah bagaimana pemahaman kita kepada agama itu harus di ‘refresh’,” tambahnya

Bagi Soekarno, kata Abdul Mu’ti, pemikiran Islam yang maju adalah kecintaan agama Islam yang diyakininya. Soekarno tidak memiliki teori yang kaitannya dengan agama islam. Tapi, tanpa diduga pernah memunculkan itu kepada Ratna Djuami (anak angkat Bung Karno). “Ketika panci milik Ratna dijilat oleh seekor anjing. Soekarno bilang cuci dengan sabun. Namun, Ratna mengatakan jaman nabi menggunakan tanah atau debu,” cerita Abdul Muti

“Tapi Soekarno kembali katakan saat jaman nabi tidak ada sabun dan akhirnya Ratna mencuci itu dengan sabun. Yang dimana dalil itu diakui oleh Peneliti dari mesir pada 2012,” sambung dia.

Dengan demikian, lanjut dia, modal spiritual tapi kita tidak boleh terpaku pada pemahaman lama merasa bahwa soal agama itu sudah selesai.

“Sebab, sekali pun Bung Karno katakan Islam sudah selesai. Tapi cara kita memahami agama harus diteruskan. Makanya Bung Karno itu lebih-lebih dari Muhamadiyah,” imbuhnya

Sementara itu Pengamat Timur Tengah, Novriantoni Kahar menyampaikan sikap tegas Proklamator, Soekarno menghadapi ideologi negara Islam, Khilafah pada 1940-an silam.

Bahkan, Soekarno menjadi satu-satunya founding father yang saat itu dengan tegas membela penista agama dan penista khilafah
“Saya tidak temukan founding father kita yang menulis pembubaran khilafah selain bung karno, kita bisa lihat dia punya preferensi intelektual sendiri, dia punya imagination, dia bayangkan bangsa yang dia bentuk seperti apa,” ucap Novriantoni dalam diskusi di kawasan Cikini, Jakarta, Senin (12/6/2017).

Lanjut, ditambahkan Novri ketika akan bentuk partai nasionalis Indonesia, Bung Karno sudah belajar dari serikat Islam, bahwa ideologi keagamaan itu bukan malah memperlapang, tapi dia ingin mencari payung yang lebih besar lagi.

Sehingga gagasan khilafah pada zaman itu tidak laku seperti sekarang dimana mulai muncul kembali desakan itu. “Pada akhirnya yang dihasilkan Bung Karno dari pemikirannya dia tidak betul-betul adopsi Turki, Indonesia itu pada akhirnya negara yang bukan-bukan, bukan sekuler bukan pula theokratis,” pungkasnya. ***