Munas ISKA: Kebangkitan Pancasila Adalah Keharusan

89
Presidium ISKA beraudiensi dengan Gubernur Lemhanas Letjen TNI (Pur) Agus Widjojo, di Kantor Lemhanas, Jakarta, Selasa (14/3)

JAKARTA-Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Letjen TNI (Pur) Agus Widjojo memastikan diri untuk menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) yang akan berlangsung di Medan, Sumut dari tanggal 24 – 26 Maret 2017.

Agus Widjojo akan menjadi pembicara dengan thema “Ketahanan Idiologi Dalam Menghadapi Bahaya Radikalisme Dan Globalisasi” yang dianggap sangat relevan dengan situasi Indonesia pada saat ini.

Demikian diungkapkan Ketua Umum Presidium ISKA, Muliawan Margadana setelah menghadap Agus Widjojo di Kantor Gubernur Lemhanas, Selasa (14/3).

Kehadiran Muliawan didampingi Presidium ISKA Hargo M, AM Putut Prabantoro, Prasetyo Nurhardjanto, yang juga alumnus Lemhanas PPRA Angkatan L dan Ketua DPD ISKA Sumut Hendrik Sitompul, yang juga alumnus Lembahas PPRA Angkatan LII.

Dijelaskan oleh Muliawan bahwa, ISKA mengambil thema “Revitalisasi Peradaban Pancasila Menuju Seabad Indonesia” dalam Munas 2017 ini.  Harapan ISKA dengan mengambil thema itu adalah bangkit kembali ketahanan idiologi yang pernah dirasakan bangsa Indonesia pada masa lalu.  “Pancasila adalah nilai luhur dan sekaligus idiologi Bangsa Indonesia yang tidak boleh ditawar oleh siapapun yang mengaku sebagai warganegara Indonesia. Dalam konteks itu, pada akhirnya Pancasila harus menjadi spirit dan way of life dari bangsa serta negara Indonesia,” ujar Muliawan.

Sebagai bangsa Indonesia, Muliawan melanjutkan, bahwa roh Pancasila harus dimiliki oleh setiap insan manusia Indonesia. Sikap atas Pancasila sebagai idiologi dan falsafah hidup harus terus dihidupkan mengingat sejak reformasi, Pancasila cenderung dilemahkan. Ditegaskan oleh Muliawan, Indonesia tanpa Pancasila sama saja dengan kehancuran. Ikatan erat antar suku, agama, keyakinan, rasa tau kelompok ada di Pancasila. “Perilaku bangsa Indonesia terletak di Pancasila dari pasal satu hingga lima. Setiap sila tidak boleh dilihat secara terpisah tetapi harus bersamaan sekaligus. Pelemahan atas sila yang satu akan menodai sila yang lain secara bersamaan,” urai Muliawan.

Oleh karena itu, menurut Muliawan, ISKA ingin bekerjasama dengan Lemhanas di masa mendatang untuk terlibat secara aktif dalam pembangunan ketahanan idiologi melalui berbagai kegiatan. Para cendekiawan ISKA juga akan aktif menyumbangkan gagasan atau pikiran agar Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Sementara itu, Hendrik menegaskan bahwa  Munas ISKA kali ini memang dipersiapkan dengan melihat satu titik yakni Kebangkitan (revitalisasi) Pancasila. Semua ormas di Indonesia seharusnya melihat kondisi politik di Indonesia kali ini sebagai momentum untuk kebangkitan Pancasila. Melemahnya pemahaman dan pengamalan Pancasila akan berdampak pada lepasnya ikatan kebangsaan dalam wadah NKRI. “Dari Medan Sumut, ISKA ingin mengajak seluruh ormas dan bangsa Indonesia untuk bersama-sama membangun kembali ketahanan idiologi yakni Pancasila. Dan, kami berharap suara dari Medan cukup  keras terdengar sampai di Merauke,” tegasnya.