Munaslub Jadi Taruhan Nasib Golar Ke Depan

28
istimewa

JAKARTA-Partai Golar diminta kembali ke fitrah sebagai partai politik yang berkuasa. Sehingga jangan lagi ada klaim bahwa Golkar berada di luar kekuasaan. Oleh karena itu Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munasub) ini akan menjadi taruhan besar bagi Golkar ke depan. “Tentu kita ingin para calon ketua umum Golkar ini sudah menjiwai dan memahami betul soal AD/ART Golkar,” kata pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Siti Zuhro
dalam diskusi politik “Babak Baru Partai Politik Di Indonesia” di Jenggala Centre, Selasa, Jakarta (3/5/2016).

Dirinya, kata Wiwik-sapaan akrabnya, sangat menghormati siapapun calon ketua umum yang akan ikut kontestasi dalam Munaslub. Namun jangan lagi muncul calon yang terpilih secara aklamasi. “Hadirkan kontestasi yang sehat, berkualitas dan beradab. Kekuatan baru yang dihadirkan menjadi taruhan. Dengan begitu public trust akan terbangun kalau Golkar solid,” tambahnya.

Menurut Wiwik, suka atau tidak, posisi Partai Golkar saat ini tertinggal dibanding partai lain. “Oleh karena itu, agar Golkar bangkit kembali maka harus berani mempromosikan kadernya. Sebab membangun kepercayaan itu tidak mudah,” ucapnya lagi.

Lebih jauh Wiwik menambahkan Golkar jangan sampai menampilkan kader lama. Artinya perlu ada sirkulasi kader. Munaslub harusnya mampu meminimalkan biaya politik. Sehingga ke depan akan terbangun budaya kontestasi yang transparan dan fairness.

Sementara itu Caketum Partai Golkar Aziz Syamsudin mengaku sangat menyayangkan bilamana partai sebesar Golkar tidak menyentuh kalangan pemilih muda terlebih kaum wanita.

Berdasarkan data Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, nanti hampir 62% pemilih yang ada di Indonesia merupakan kalangan muda. Bilamana Partai Golkar tidak mengubah untuk menyentuh kalangan pemilih muda, dipastikan regenenerasi kader perlahan akan menurun. “Pemilih muda itu harus disentuh saat ini, karena pada Pemilu di 2019 nanti hampir 62% dari kalangan muda, dan mereka harus kita sentuh agar partai ini dapat berkembang,” ungkapnya

Ketua Kosgoro ini memaparkan selain partainya harus mengubah untuk dapat menyentuh kalangan muda di Indonesia, dirinya menilai bahwa Golkar harus dapat cepat memperbaiki kinerja terlebih kepada para kader partai.

Aziz menjelaskan pembenahan kinerja partai tentunya tidak hanya dengan mengandalkan suatu sistem yang baru atau telah dievaluasi. Namun pembenahan harus dipimpin oleh Ketua yang memiliki visi misi yang jelas dan track record yang baik. “Partai itu jualannya adalah pelayanan, bilamana pelayanan buruk dan tidak bisa dipercaya dipastikan pemilih akan meninggalkan, oleh karena itu hal tersebut harus diperhatikan agar Partai Golkar dapat kembali jay pada Tahun 2019 ini,” ujarnya.

Dirinya juga menambahkan terkait dengan kaderisasi, Aziz menilai bahwa hal tersebut sudah mulai menurun pada Partai Golkar, hal ini terlihat dengan minimnya kader muda yang ingin membangun Partai senior ini dan beralih pada partai politik yang baru. “Dahulu bisa dilihat Partai Politik, bilamana ayahnya Golkar dipastikan anaknya akan mewariskannya, tetapi sekarang ini sudah tidak, generasi muda lebih memilih partai lain yang lebih demokrasi dan lebih modern ketimbang Golkar dan inilah yang perlu diperhatikan,” tandasnya. ***aec