Neraca Perdagangan Nonmigas Januari-Juli 2013 Surplus

38

JAKARTA-Neraca perdagangan nonmigas Indonesia pada periode Januari-Juli 2013 mengalami surplus sebesar USD 1,98 miliar, namun demikian neraca perdagangan migas pada periode yang sama masih mengalami defisit USD 7,63 miliar. Akibatnya, secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia masih defisit sebesar USD 5,65 miliar. Sementara itu, pada bulan Juli 2013, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD 2,3 miliar. Kondisi tersebut disebabkan oleh terjadinya defisit perdagangan migas sebesar USD 1,9miliar (bulan sebelumnya defisit sebesar USD 730,6juta) dan defisit non migas sebesar USD 454,4 juta (bulan sebelumnya defisit USD 146,6juta).

Menurut Wakil Menteri Perdagangan RI Bayu Krisnamurthi, penyebab defisit migas di bulan Juli 2013 adalah tingginya impor hasil minyak yang nilainya naik 24,8% (MoM) dan volumenya naik 25,9%. Sedangkan untuk defisit nonmigas disebabkan oleh kenaikan impor mesin-mesin/pesawat mekanik, plastik dan barang dari plastik, bahan kimia organik, kendaraan dan bagiannya, serta besi dan baja, yang bernilai antara USD 117 juta-386 juta atau naik sekitar 15-33,7% (MoM).

India, Amerika Serikat(AS), Belanda, Filipina, dan Turki merupakan mitra dagang penyumbang surplus terbesar selama Januari-Juli 2013. Surplus perdagangan dengan India dan AS mengalami peningkatan yang paling signifikan dari USD 4,5 miliar menjadi USD 5,3 miliar dan dari USD 2,1 miliar menjadi USD 3,7 miliar. Sementara itu, Cina, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Australia menjadi mitra dagang penyumbang defisitterbesar.

Defisit perdagangan dengan Cina mencapai USD 5,7 miliar, Thailand USD 3,5 miliar, Jepang USD 2miliar, Korea Selatan USD 1,8 miliar, dan Australia USD 1,2 miliar.“Tekanan neraca perdagangan selama Januari-Juli 2013 juga terjadi di negara-negara lain seperti Brazil yang defisit sebesar USD 5miliar; Thailand defisit USD 19,8miliar;dan Hongkong defisit USD 46,9 miliar,” kata Wamendag.

Lebih lanjut, Wamendag menjelaskan bahwa kondisi ekonomi global terus menekan kinerja ekspor nasional. Ekspor bulan Juli 2013 mencapai USD 15,1miliar atau meningkat sebesar 2,4 % (MoM), yang terdiri dari ekspor migas sebesar USD2,3miliar (turun18,5% MoM) dan ekspor nonmigas USD 12,8miliar (naik 7,3% MoM). Tekanan ekonomi global terhadap ekspor di bulan Juli 2013 juga dialami beberapa negara lain seperti Brazil dan Thailand dengan penurunan sebesar 0,9% dan 2,8% (YoY).

Negara tujuan ekspor nonmigas yang memiliki pencapaian nilai ekspor terbesar selama Januari-Juli 2013 secara berurutan adalah Cina dengan nilai sebesar USD 12miliar;Jepang USD 10,2 miliar; AS USD 8,7miliar;India USD 7,1miliar;Singapura USD 5,9miliar;Malaysia USD 5,2miliar;Korea Selatan USD 4 miliar;Thailand USD 3,1miliar;Belanda USD 2,6miliar;serta Filipina USD 2,1miliar.

Sepuluh pasar ekspor utama tersebut berkontribusi sebesar 68,7% terhadap total ekspor nonmigas. Nilai ekspor ke beberapa negara yang nilainya mengalami kenaikan signifikan adalah India dengan kenaikan mencapai USD 610,6juta, kemudian Singapura, AS, Myanmar, Filipina, Rusia, Turki, Thailand,Nigeria dan Selandia Baru yang mengalami kenaikan sebesar USD 64,4 juta sampai dengan USD 437,6juta.

Beberapa produk manufaktur memberikan kontribusi peningkatan ekspor yang signifikan, antara lain kapal laut meningkat USD 569,8 juta atau naik 246,8 % dari periode yang sama tahun sebelumnya;produk alas kaki ekspornya meningkat sebesar USD 227juta atau naik 10,9%; dan ekspor pakaian jadi naik sebesar USD 156,6 juta atau meningkat 6,8%.

Secara umum, penurunan nilai ekspor selama Januari-Juli 2013 dipicu oleh belum membaiknya harga beberapa komoditi ekspor nonmigas Indonesia di pasar internasional. Hal ini ditunjukkan oleh total volume ekspor nonmigas yang mengalami peningkatan sebesar 20,4%, meskipun nilainya turun 2,7 % selama periode tersebut. Beberapa produk yang mengalami fenomena serupa antara lain bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, karet dan barang dari karet, mesin-mesin/pesawat mekanik, serta berbagai produk kimia.

Selanjutnya Wamendag menjelaskan bahwa impor bulan Juli 2013 mencapai USD 17,4 miliar atau naik 11,4% (MoM). Kenaikan impor tersebut terjadi akibat naiknya impor migas sebesar 17,2% (MoM) menjadi USD  4,1miliar,sementara impor nonmigas mengalami peningkatan sebesar 9,7% (MoM) menjadi USD 13,3 miliar. “Meningkatnya impor migas disebabkan oleh meningkatnya impor hasil minyak yang naik sebesar 24,8%,” imbuhnya.

Secara kumulatif, total impor selama Januari-Juli 2013 mencapai USD 111,8 miliar atau turun 0,9% (YoY),yang terdiri dari impor nonmigas sebesar USD 85,6 miliar (turun 3,4%YoY) dan impor migas USD 26,2 miliar (naik 8,5% YoY).

Kenaikan impor migas tersebut disebabkan oleh meningkatnya permintaan minyak mentah yang meningkat sebesar 30,7%. Selama  Januari-Juli 2013, struktur impor masih didominasi oleh impor bahan baku/penolong yang mencapai 76,2% dan barang modal yang mencapai 16,9%. Impor barang konsumsi turun sebesar 2,1%(YoY) menjadi USD 7,8miliar. Impor bahan baku/penolong naik 3,9% menjadi USD 85,2miliar,sementara impor barang modal turun 17,5% menjadi USD 18,9 miliar,atau jauh lebih rendah dari impor tahun lalu yang naik sebesar 32,6 %.

Komoditas impor nonmigas yang mencapai nilai impor terbesar selama Januari-Juli 2013 secara berurutan adalah mesin-mesin mekanik dengan nilai sebesar USD 15,8 miliar;mesin listrik USD 11,3 miliar; besi dan baja USD 6,3 miliar; kendaraan dan bagiannya USD 4,9 miliar;plastik USD 4,6 miliar; bahan kimia organik USD 4,2 miliar;benda dari besi dan baja USD 2,96 miliar;gandum USD 2,1miliar;ampas/sisa industri makanan USD 1,8 miliar;serta kapasUSD 1,5miliar. Sepuluh komoditasimpor utama tersebut berkontribusi sebesar 64,9% dari total impor nonmigas.